Orangutan dan Saya

Ini bukan post yang hendak memberitakan pembantaian orangutan, karena saya yakin sudah banyak yang menuliskannya. Ini hanya sekedar post yang menceritakan sekelumit pengalaman saya dengan binatang yang nama latinnya Pongo Pygmaeus ini.

Perusahaan tempat ayah saya bekerja memiliki sebuah majalah internal, yang diberikan pada karyawan dan stakeholder terkait secara periodik. Ketika saya masih SD, ada pemberitaan mengenai rehabilitasi orangutan yang dilakukan oleh salah satu divisi dalam perusahaan tersebut, sebagai bagian dari tanggungjawab sosial mereka.

Orangutan yang direhabilitasi adalah orangutan yang sedang sakit (atau kira-kira rentan oleh penyakit), dan yang ditangkap oleh masyarakat yang belum teredukasi, atau terhadap ancaman lain. Mereka dirawat, dibantu beradaptasi kembali dengan alam, lalu benar-benar dilepaskan ke habitatnya.

Selama dalam perawatan, orangutan-orangutan itu diberi nama, mungkin untuk kemudahan dalam membedakan. Dan, salah satu orangutan betina tersebut diberi nama Dini, dan diberitakan dalam majalah internal perusahaan. Alhasil, ketika majalah internal itu diedarkan, saya menjadi bulan-bulanan di sekolah. Ya, majalah itu tidak hanya dibaca oleh para orangtua yang bekerja, tetapi juga anak-anak mereka, termasuk teman-teman saya. Sebagaimana anak kecil lainnya, saya merasa terganggu. Disamakan dengan orangutan bukanlah hal yang menyenangkan saya pikir waktu itu. Apalagi saya waktu itu menganggap orangutan mengerikan, jahat, kejam, dsb. Lama-kelamaan, berita itu menguap begitu saja. Teman-teman juga telah berhenti menyama-nyamakan saya dengan orangutan.

Di suatu sore yang cerah, saya menikmati sesi bermain dengan anak tetangga dan beberapa sepupu yang kebetulan sedang berlibur di rumah kami. Semuanya laki-laki, kecuali saya dan kakak saya. Karena mereka laki-laki maka mereka berani mencoba permainan yang sedikit ekstrim. Mereka masuk ke hutan di depan rumah saya, agak dalam. Saya dan kakak dengan takut-takut mengikuti. Mereka mencari akar gantung untuk digelantungi. Ingin meniru Tarzan, rupanya. Agar mudah dipegang, akar gantung itu diikat dengan sebatang kayu secara horizontal. Not bad, kami yang masih kecil ini bisa memegang dan bergelantungan sambil berteriak “Auooo..” dengan lantang tanpa harus merasa takut jatuh karena permukaan akar gantung yang licin. Asik sekali 😀

Tiba-tiba seekor orangutan betina mendekat. Kami takut sekali waktu itu. Tetapi dia tidak melakukan apapun, kecuali duduk di dekat kami, dan menatap kami lekat-lekat. Kami terkesima. Sepupu-sepupu saya yang lelaki memilih untuk tetap bergelantungan, sedang saya, lebih memilih untuk melihat dari dekat si orangutan betina. Kami berhadap-hadapan, menatap satu sama lain. Saya tersenyum, merespon bentuk bibirnya yang memang seperti menyunggingkan senyum. Kakak saya berlari ke dalam rumah, memberitahu ayah kami. Saya juga berlari ke rumah, untuk mengambil beberapa buah pisang.

Saya kembali terlebih dahulu dan menyerahkan pisang yang sudah saya bawa. Dia mengulurkan tangannya, mengambil pisang itu, mengupasnya, dan memakannya. Saya semakin terkesima. Ayah kami ternyata menyusul. Beliau hanya memperingatkan saya untuk tidak menyentuhnya. Takut ada reaksi yang tak diduga, dan lagipula, DNA orangutan dan manusia itu mirip. Takut ada penyakit bisa masing-masing kami tularkan. Tak apa tak boleh menyentuhnya. Menatapnya dari dekat sudah cukup buat saya.

Setelah pisang habis, dia perlahan pergi ke hutan yang lebih dalam. Saya sedikit kecewa, tapi terlalu takut untuk mendekat. Tapi saya tahu, dia dan saya, telah memahami bahwa kami bukan ancaman bagi masing-masing. Dan tidak sepatutnya seperti itu. Karena itu, ketika manusia merasa terancam dengan orangutan, mungkin dia perlu berkaca, bahwa sejatinya dialah yang telah mengancam hidup orangutan.

Think Again (Courtesy BOS Australia)

Think Again (Courtesy BOS Australia)

Advertisements