BENTUK COLLECTIVE ACTION YANG DILAKUKAN OLEH FORUM KOMUNIKASI MASYARAKAT CODE SELATAN (FKMCS) (Studi Kasus: Perencanaan Pembangunan Partisipatif Di Kampung Karanganyar Rw 19 Mergangsan Yogyakarta)

Oleh

Ratnaningsih Damayanti, Ulya Niami Efrina Jamson, Dini Suryani, Nizam Zulfikar

Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIPOL UGM

 

Abstrak

Kawasan Bantaran Kali Code sebagai ikon dari kawasan kumuh atau kawasan marginal dari Kota Yogyakarta tidak pernah sepi dari berbagai perhatian baik dari aktor formal maupun informal. Belakangan ada fenomena menarik dimana kawasan Code Selatan, sedikit demi sedikit “keluar” dari kesan kumuhnya karena telah dibangun beberapa fasilitas untuk memperindah kawasan bantaran kali tersebut, diantaranya paving blok, MCK, dll

Adalah FKMCS (Forum Komunikasi Masyarakat Code Selatan) yang ternyata memiliki jasa besar dalam pembangunan fasilitas tersebut, tidak hanya pembangunan fisik, tapi juga non-fisik. FKMCS juga bertujuan untuk merubah gaya hidup masyarkat yang kotor dan pola pikir masyarakat untuk bersama-sama memperbaiki kawasan Code, sehingga timbul partisipasi terhadap perbaikan dan pembangunan kawasan tersebut. dan oleh sebab itu kami tertarik untuk lebih lanjut mengamati fenomena pembangunan partisipasi tersebut.

FKMCS yang diinisiasi oleh beberapa orang mampu berjejaring dengan berbagai lembaga lain yang bisa mendukung visi dan misi FKMCS diantaranya Bapedalda, LSM dan funding dalam hal ini GTZ. Akhirnya karena banyaknya fasilitas yang dibangun sedikit-demi sedikit mampu me-reframe masyarakat sehingga ikut “ngopeni” fasilitas tersebut. Hal ini diantaranya bisa terlihat dari banyaknya warga yang ikut dalam sarasehan yang diadakan FKMCS untuk menjaring aspirasi warga dalam membangun kawasan Code Selatan.

Dalam laporan ini kita akan mengeksplorasi sejauh mana FKMCS mampu meng-engage partisipasi masyarakat dalam membangun kawasan Code Selatan mengingat derajat dan bentuk partisipasi yang berbeda-beda pada masing-masing individu dalam masyarakat. FKMCS sebagai aktor informal yang beranggotakan masyarakat setempat menjadi pendorong yang efektif untuk meningkatkan tingkat partisipasi masyarakat setempat dalam membangun kampung mereka.

 

 

Abstrak di atas disusun sebagai bagian dari Laporan Akhir Penelitian pada Kompetisi Hibah Penelitian yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada Tahun di tahun 2008.

Alhamdulillah kami semua sudah lulus S1. Semangat di tempat yang baru ya teman-teman 🙂

Oh ya, sebagai bagian tak terpisahkan dari riset ini adalah Kona dan Phuket. Remember guys? Hahaha 😀

ANGKRINGAN SEBAGAI PUBLIC SPHERE: ARENA PENGEMBANGAN RASIONALITAS PUBLIK

Oleh

Ulya N. E.  Jamson, Dini Suryani, Bintar Lulus P (Jurusan Ilmu Pemerintahan) Wildan Mahendra R  (Jurusan Sosiologi) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

ABSTRAK

Keterbatasan wilayah di perkotaan akan berdampak langsung pada keterbatasan ruang publik (public sphere) yang ada. Padahal ruang publik dibutuhkan sebagai media berinteraksi manusia dalam upaya merekatkan ikatan sosial. Namun, realitanya public sphere yang ada di wilayah perkotaan tidak dapat diakses semua orang. Angkringan sebagai fokus pembicaraan dalam tulisan ini, hadir untuk menjawab persoalan tersebut.

Angkringan sebagai sebuah public sphere ternyata tidak hanya dapat dilihat dari sisi ekonomis. Angkringan turut memerankan fungsi penting yang lain, yaitu sebagai tempat mengobrol dan bertukar informasi. Pengunjung angkringan dipastikan terlibat pembicaraan (secara langsung maupun tidak) baik dengan penjual maupun dengan konsumen lain.

Tulisan ini berusaha mengungkapkan sisi lain dari angkringan sebagai public sphere yang tidak banyak diperhatikan. Lebih jauh, diharapkan melalui tulisan ini keberadaan public sphere seperti angkringan dapat difasilitasi karena menempati posisi yang strategis.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif berjenis deskriptif. Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder yang dikumpulkan dengan melakukan library research dan observasi partisipan yang diselingi dengan wawancara.

Hasil dari observasi memperlihatkan adanya cross social interaction, baik antara pembeli—penjual maupun pembeli—pembeli. Selain itu, ditemukan bahwa angkringan menjadi tempat bertemunya antar komunitas. Isu yang dibahas dalam interaksi angkringan berfungsi sebagai kontrol sosial dan kritik atas  kebijakan di tingkat lokal dan nasional yang berpengaruh terhadap mereka.

Dari tulisan ini kita dapat melihat bahwa angkringan bukan hanya tempat ritual makan dan minum. Angkringan juga merupakan arena pengembangan rasionalitas publik yang berawal dari diseminasi ide dan sirkulasi info, yang tercipta dari pembicaraan santai.

Kata-kata kunci: angkringan, public sphere, rasionalitas publik

Ini adalah abstrak dari karya tulis ilmiah kami, yang kami kirimkan untuk mengikuti kompetisi Pekan Ilmiah Mahasiswa XXII, Pekan Kreativitas Mahasiswa Bidang Penulisan Ilmiah tahun 2008. Tidak disangka, karya yang kami kerjakan dengan ngebut ini berhasil memasuki final. Kami lalu dipanggil ke Semarang sekitar pertengahan 2008 untuk presentasi, dan Alhamdulillah, kami berhasil menjadi Penyaji Terbaik I di Bidang Penulisan Ilmiah.

Tiga dari kami sudah lulus kuliah: Pipin (Ulya) sedang menyelesaikan program Youth Exchange Canada-Sei Gohong, Wildan menjadi Pengajar Muda di Program Indonesia Mengajar di pedalaman Riau, Saya (Dini) masih berstatus Kandidat Peneliti di Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta, dan Bintar sedang berjuang menyelesaikan skripsinya di universitas kebanggaan kami, UGM Yogyakarta.

Setelah ini berlalu, kami berencana untuk bertemu di angkringan di Yogyakarta pada reuni perdana kami nanti 😀

Tapi kira-kira kapan ya? Hehe

mimpi

*untukmu yang ingin pindah jurusan

Question of The Day: Apakah saya hari ini merupakan mimpi saya yang kemarin?

Saya adalah orang yang penuh mimpi. Kalo inget dulu pas jaman SD ngebaca Buku Pintar punya kakak saya yang banyak banget informasi di dalamnya termasuk soal shio-shio an. Saya yang tergolong shio kelinci ini termasuk kelinci pemimpi, malas bekerja. Rese banget kan tu buku, bilangin saya males. Walopun kadang ada benarnya :p

Mimpi itu kata temen saya yang bagus banget kemampuan leksikalnya, adalah visi atau tujuan. Misalnya ni kamu dalam perjalanan, nah, tujuan perjalanan kamu dimana? Dimana perjalanan kamu ini berhenti? Itulah mimpi. Sedangkan dengan apa kamu mencapainya itu soal operasional. Ibarat perjalanan (lagi), kamu bisa naik bus, mobil, pesawat, roket atau UFO sekalipun. Ganti-ganti juga boleh. Abis mobil, eh bosen trus ganti pesawat, sah-sah aja. Atau naek pesawat trus pesawatnya jatoh, ganti naek mobil (asal pastiin dulu kamu masih idup pasca jatuhnya pesawat yang kamu tumpangi ;p) gapapa juga. Yang penting sampai di tujuan kamu.

Saya ingat sekali, ketika SMA, saya punya mimpi barengan (cieeh, SMA banget yah) sama temen (lumayan) deket saya. Kami ingin berkontribusi buat daerah kami (haha, ckckck), Kutai Timur. Namanya juga visi, abstrak banget kan. Karena itu,kami punya misi, mengambil jurusan (di universitas) yang berkaitan dengan pemerintahan, karena kami memandang, daerah ini lack of good human resources who can govern well. Yep, we wanted to be part of the government. Terserah mau PNS mau kagak, yang jelas, berkontribusi melalui jalur pemerintahan. Dan disanalah kami, berusaha dan menyemangati satu sama lain.

Ternyata kami memilih ‘kendaraan’ yang berbeda. Dia lebih memilih tes di suatu institut milik departemen pemerintah sedang saya konsisten tes di universitas biasa. Alasan saya simple waktu itu, I’m not interested at all ngelamar di institute yang sama. Dia keterima, saya juga.

Di bulan-bulan pertama saya kuliah, saya menggila. Bukan karena saya seneng, tapi karena saya pusing. What the hell is this? Dosen ini ngomong apa sih?! Ini mata kuliah apaan?! Ohmaigat I just don’t get it! Saya merasa bodoh. Well maybe I am. Godaan untuk pindah jurusan sangat besar. Saya sempat bilang ke ortu saya, bahkan. Dan tanggapan mereka, kagetlah. Intinya mereka bilang bahwa saya akan menyia2kan 1 tahun dalam hidup saya karena harus mengulang setahun itu. Tapi basically, semua pilihan diserahkan ke saya.

Walaupun berniat pindah jurusan, saya berusaha memahami kuliah2 itu, setidaknya untuk satu tahun. Walaupun sulit sekali. Kemampuan IPS saya dipertanyakan. Padahal, hey I’m so IPS you know?! Maksudnya ga bisa ngitung dan langsung pusing liat angka. Haha. Bagusnya, saya berteman baik sama orang yang pinter. Paling tidak, wacana saya terasah, dari diskusi2 sama dia. Yes, you need a very good environment. Yang membuat kamu nyaman berada di situ, yang membuatmu yakin bahwa kamu tidak salah jurusan.

Ujian semester pertama, wasn’t so good for me. Walopun ga jelek2 banget, It was the worst grade I’ve ever got. Keinginan untuk pindah jurusan muncul lagi. Tapi saya kemudian teringat, memang bagaimana saya bisa sampai disini?! Selain tentu saja takdirNYA, bagaimanapun INI ADALAH PILIHAN SAYA! MIMPI SAYA yang DIA kabulkan.

Kenapa saya jadi tidak bersyukur, dan dengan mudahnya berpaling? Di luar sana banyak sekali mahasiswa yang terpaksa masuk jurusan dimana dia berada sekarang, karena keinginan ortu yang tak dapat ditawar2. Ada yang menjalani dengan tabah, ada pula yang berontak, dan akhirnya semua berantakan, bahkan ada yang sampai gila. Lalu saya, yang memang sedari awal menginginkan ini, dan Allah melancarkan usaha saya, masih punya muka buat pindah keinginan?!

Saya melewati masa-masa kuliah dengan ceria. Kekuatan mimpi itu yang menceriakan saya. Ketika saya merasa jatuh, tak berkemampuan, saya selalu mengingat bahwa inilah mimpi saya. Jalani saja. Jalani. Kalo memang Dia meridhoi maka akan dimudahkanNYA, kalo Dia tidak meridhoi maka akan saya akan dihentikan, bagaimanapun caranya. Simple saja. Akhirnya saya mengakhiri kuliah dengan nilai yang kuantitatif yang  tidak terlalu buruk, dan nilai kualitatif yang buat saya pribadi, tak terukur (karena saya merasakan banyak manfaat pada proses 5 tahun itu). Allah bahkan memberi saya kesempatan, untuk berkontribusi di lingkup yang lebih luas, bukan semata di tingkat kabupaten. DIA memang MAHA BAIK.

Saya tahu, mungkin beberapa ada yang tidak sepakat. Mimpi masa SMA itu katanya mimpi bocah. Tanpa pikir panjang, tanpa melihat lebih jauh apa yang kira2 di depan sana. Tapi dia tetaplah mimpi, formulasi dari kesukaan, minat, dan keinginan kita. Jadi buat saya, semuda apapun usia kita dalam memimpikan sesuatu, itu bukan masalah. Bahkan banyak sekali kan, orang yang bisa mencapai sesuatu yang dimimpikannya ketika kecil, lebih bocah daripada usia SMA?!

Jadi, kenapa harus mengingkari mimpi sendiri? Ketika dalam penglihatan kita mimpi itu nyaris tidak tercapai dengan mudahnya kita membuangnya dan merajut mimpi lain?! Lalu jika mimpi lain itu nyaris tidak tercapai lagi, maka kita akan berbuat hal yang sama? Punya muka berapa untuk berbuat demikian? Padahal, sering sekali manusia itu, memilih untuk berhenti, ketika jalan keluar itu sudah tinggal beberapa langkah. Sampai kapan kita jadi pengecut, bahkan menghadapi mimpinya sendiri tidak berani.

Tapi, jika kau memang merasa ini bukan mimpimu, maka hentikan sekarang juga dan segara rajut mimpi baru, yang kau tekadkan akan kau kejar setengah mati sampai kau benar-benar menggapainya, betapapun berdarah-darahnya dirimu.

Untukmu yang duduk di situ, apakah kau hari ini adalah mimpimu kemarin?

Climb ev’ry mountain, ford ev’ry stream,
Follow ev’ry rainbow, till you find your dream.

Oscar Hammerstein II (1895 – 1960)

Bulan di atas kota kecilku yang ditinggalkan zaman (Moon Over My Obscure Little Town) oleh Andrea Hirata

Bulan di atas kota kecilku yang ditinggalkan zaman

 

Orang asing

Orang asing

Seseorang yang asing

 

Kutatap diriku dalam cermin

Tak percaya aku pada pandanganku

Begitu banyak cinta telah mengambil dariku

 

Aku kesepian

Aku kesepian di keramaian

Mengeluarkanmu dari ingatan

Bak menceraikan angin dari awan

 

Takut

Takut

Aku sangat takut

Kehilangan seseorang yang tak pernah kumiliki

 

Gila, Gila rasanya

Gila karena cemburu buta

 

Yang tersisa hanya kenangan

saat kau meninggalkanku sendirian

di bawah bulan yang menyinari kota kecilku yang ditinggalkan zaman

sejauh yang dapat kukenang

cinta tak pernah lagi datang

 

bulan di atas kota kecilku yang ditinggalkan zaman

bulan di atas kota kecilku yang ditinggalkan zaman

 

Moon Over My Obscure Little Town

 

Stranger

Stranger

Someone stranger

 

Standing in a mirror

I can’t believe what I see

How much love has been takenaway from me

 

My heart cries out loud

Everytime I feel lonely in the crowd

Getting you out of my mind

Like separating the wind from the cloud

 

Afraid

Afraid

I’m so afraid

Of losing someone I never have

 

Crazy, oh, crazy

Finding reasons for my jealousy

 

All I can remember

When you left me alone

Under the moon of my obscure little town

As long as I can remember

Love has turned to be as cold as December

 

The moon over my obscure little town

The moon over my obscure little town

 

_Andrea Hirata, Padang Bulan (2010), p. 197-199_



Rasanya Baru Kemarin

Rasanya baru kemarin, aku mengeja perlahan-lahan, kata demi kata yang tertulis di buku belajar membaca, sambil sedikit-dikit melirik ibu yang tak lelah mengawasi, di kamar kontrakan kami yang sempit itu.

 

Rasanya baru kemarin, ibu memasakkan nasi kuning lengkap dengan lauk pauk di hari jadiku yang kelima, di tahun pertama kita pindah kerumah kayu yang indah ini.

 

Rasanya baru kemarin, ayah mengantarkanku ke taman kanak-kanak yang baru dibangun itu, dengan vespanya yang gagah.

 

Rasanya baru kemarin, ayah mendatangi acara pelepasan taman kanak-kanak dimana aku menjadi deklamator puisi, karena diantara siswa lain aku lebih pandai membaca.

 

Rasanya baru kemarin, ibu membelikan seragam merah putih yang baru, karena yang lama sudah sempit sekali.

 

Rasanya baru kemarin, ayah bertanya tentang nama anak laki-laki yang berani datang ke rumah dengan seragam putih biru itu.

 

Rasanya baru kemarin, ibu memberi pesan, untuk lebih menjaga diri karena aku sudah mulai beranjak remaja.

 

Rasanya baru kemarin, aku terlambat pulang sekolah, mampir dan jajan di suatu tempat dengan para sahabat, bangga mengenakan putih abu-abu kami.

 

Rasanya baru kemarin, aku duduk di teras rumah belakang menatap langit yang  bersih dan awan yang bergumpal-gumpal, berpikir sebentar lagi akan pergi jauh untuk menuntut ilmu.

 

Rasanya baru kemarin, ibu meninggalkanku di kamar sewaan di dekat kampus, dengan isak yang ditahan dan air mata yang berkali-kali dihapus.

 

Rasanya baru kemarin, petuah-petuah ayah menghiasi pembicaraan sambungan langsung jarak jauh dua minggu sekali, agar aku menjaga amanahnya untuk baik-baik menuntut ilmu.

 

Rasanya baru kemarin, pesan singkat yang kukirim kepada ibu mengabarkan bahwa aku akan segera memakai toga.

 

Rasanya baru kemarin, dadaku sesak, perpisahan dengan saudara seperjuangan di jogja begitu berat.

 

Rasanya baru kemarin, aku menempati kamar lamaku dengan suasana baru, kembali ke rumah kayu ini.

 

Rasanya baru kemarin, ayah mengantarkanku ke bandara, untuk menuju ibu kota, dengan pandangan yang penuh harapan.

 

Rasanya baru kemarin, ayah dan ibu mengucapkan syukur, atas kabar yang kuberikan.

 

Rasanya baru kemarin, hari-hari itu kulewati.

 

Rasanya baru kemarin tapi aku sudah harus pergi lagi untuk mengabdi pada negeri.

 

Rasanya baru kemarin…

seperti danau yang tenang

Seperti danau tenang yang dilemparkan batu ke dalamnya, dilukai sahabat itu. Beriak pasti muncul walau setitik, longitudinal berpijar-pijar walau sedikit.

Tapi sesaat kemudian kau mulai tenang kembali, meski kau tak bisa memungkiri kenyataan bahwa batu itu masih di dalam dasarmu. Beronggok tanpa permisi. Melukai sedikit permukaan tanahmu.

Namun kau lebih memilih membiarkannya. Menyambutnya sebagai bagian dari dirimu. Mempersilakannya di situ, tanpa mengusirnya bulat-bulan meski ia melukaimu. Menerima batu itu dengan segenap hatimu. Memaklumi kelebihan dan kekurangannya sepenuh jiwamu.

Tapi batu tak akan pernah bercampur. Ia tetap batu, tetap beronggok tanpa permisi, tetap melukai. Sungguh kau tidak bisa berpura-pura. Berpura-pura tak terjadi apa-apa.

Namun tidak berarti kau tidak memaafkannya. Kau memaafkannya dengan segala kekurangan yang kau punya. Karena kau menyadari bahwa ikhlas tak bisa didapat dalam sehari. Ia butuh waktu namun pelan tapi pasti, kau tahu akan mencapainya.

O, aku bukanlah danau yang tenang itu. Tapi aku akan menjadi sepertinya. Sepertinya.

ikhlas

ikhlas.

seperti nama mushola-yang sekarang sudah jadi masjid- di dekat rumah saya.

ikhlas.

seperti nama seorang teman di masa lalu yang sudah saya lupa wajahnya.

ikhlas.

seperti kata yang sering diucapkan orang yang baru saja memberikan sesuatu yang berharga untuknya pada orang lain, dengan suara yang keras.

ikhlas.

seperti kumpulan huruf yang keluar dari dua orang yang bertengkar, mengklaim dirinya sama-sama ikhlas.

ikhlas.

seperti sebongkah kaca tipis, rapuh.

ikhlas.

juga seperti tangis ibunda di malam hari. juga air susunya, yang mengaliri darah ini.

ikhlas.

juga seperti peluh ayahanda, kakinya yang pegal, tulangnya yang berbunyi.

ikhlas.

juga seperti suara parau tuan guru, yang menghujanimu dengan ilmu.

ikhlas.

juga seperti sinar mentari yang terik di siang hari

ikhlas.

juga seperti sinar rembulan yang lembut dan samar-samar namun menerangi

ikhlas.

juga seperti hujan di sore hari. membawamu pada suatu peristiwa yang juga terjadi di nuansa yang sama

ikhlas.

juga seperti…

seperti perasaan yang berada di lapis terdalam hati manusia.

yang aku tak tahu pasti bagaimana bentuknya,

namun semoga bisa merasakannya,

dalam masa senang maupun susah.

ikhlas.

seperti judul catatan ini :p

mungkin

mungkin aku terlalu bodoh

untuk mengerti jalan pikiranmu

mengikuti logikamu

tapi aku tidak begitu bodoh

untuk menentukan jalanku sendiri

mungkin aku terlalu aneh

untuk kau sebut normal

untuk kau panggil biasa

tapi aku tidak begitu aneh

karena ini adalah diriku

yang kau besarkan dengan caramu

mungkin aku terlalu angkuh

untuk menuruti semua kata-katamu

menaati kemauanmu

tapi aku tidak begitu angkuh

karena ini adalah darahmu

yang mengalir dalam tubuhku

mungkin aku terlalu banyak menuntut

untuk kau sebut berbakti

untuk kau sebut patuh

tapi inilah aku

inilah caraku mencintaimu

Sangatta, 7 September 2010

Malu

malu aku padaMU, setiap hari hanya mampu mempersembahkan selembar dua lembar tilawah. Padahal buku fiksi tebal favoritku habis dalam semalam.

malu aku padaMU,
setiap malam hanya kuat berdiri dua rakaat, diselingi kantuk tak tertahankan. Padahal aku mampu mengerjakan tugas hingga pagi menjelang.

malu aku padaMU,
tidak pernah bersedekah lebih dari lima ribu, dari sisa-sisa uang jajanku.

malu aku padaMU,
beribadah dengan sisa tenaga namun banyak meminta, kebanyakan untuk dunia.

malu aku padaMU, Allah T_T