Seharusnya

Hari-hari kemarin terlalu banyak dihiasi kata seharusnya

Seharusnya begini

Seharusnya begitu

Ada sesal yang terkandung

Ada marah yang terselubung

 

Ini bukan soal menyesali kematian

Tapi ini soal menyesal pada orang-orang yang bergerak tidak pada tempatnya

Mengambil tindakan yang tidak seharusnya

Ah, seharusnya

 

Ini bukan soal marah pada takdir

Tapi ini soal marah pada diri yang begitu berat memaafkan

Padahal diri juga orang yang hina bersimbah kesalahan

Maka seharusnya maaf bisa terberikan

Ah, seharusnya

 

Dan bulir-bulir hujan di bulan November

Telah sekuat tenaga mengajarkan keikhlasan

seharusnya bisa meluruhkan penyesalan

seharusnya bisa menghapuskan kemarahan

bahwa tak ada gunanya menyimpan luka

dan memaafkan adalah jawaban

Advertisements

Untukmu Maafkan Saya

Untuk pekerjaan-pekerjaan yang kurang sempurna…

Untuk tindakan-tindakan yang kurang ikhlas…

Untuk perilaku-perilaku yang kurang sabar…

Untuk janji-janji yang batal ditepati…

Untuk menularkan energi-energi yang kurang positif…

Untuk ruku’-ruku’ yang kurang tuma’ninah…

Untuk sujud-sujud yang kurang panjang…

Untuk do’a-do’a yang dirapalkan dengan tergesa-gesa…

dan

Untuk menjadi abdi negara yang sekenanya, anak yang seenaknya, dan hamba yang seadanya.

Maafkan saya.

Tentang Karir dan Keluarga

Hari ini Kuro, laptop saya, masuk panti rehabilitasi. Error dua minggu cukup untuk membuat saya deg-degan, dan mari kita masukkan dia ke HP Service Center.

Setelah dari pusat pemeliharaan laptop, ingin segera pulang saja. Tapi rasanya sayang jika tidak ke toko buku. Membeli beberapa alat tulis, satu buku non-fiksi dan sebuah novel. Tidak banyak pertimbangan memilihnya. Saya tahu penulisnya sejak SMP, Nurul F. Huda.  Tidak terlalu mengikuti karirnya, meski kami berteman di Facebook. Dia sudah almarhumah. Tahun lalu, dalam usia relatif muda, dan meninggalkan 2 anak yang masih kecil. She was a single mom. Mengenai ini, saya berasumsi almarhumah bercerai dengan suaminya. Karena cerita mengenai suaminya hampir tidak pernah muncul, diiringi dengan tulisan yang semakin menunjukkan ketegaran, juga kesendirian. Wallahua’alam.

Yang saya beli adalah novel terakhirnya sebelum penyakit jantung mengakhiri perjalanan hidupnya di dunia. Judulnya Suami Sempurna. Sejatinya ini bukan novel, tetapi kumpulan cerpen. Saya baru sempat membaca 3-4 cerpen. Salah satu judul yang saya baca bertajuk “Dua Bunda”. Dan saya pasti menangis jika tidak ingat bahwa saya sedang berada di tempat cucian motor. Yak, saya membacanya ketika si Shiro sedang dimandikan oleh mas-mas yang saya tidak tahu namanya 😀

Dua Bunda pada dasarnya bicara soal konflik batin seorang ibu yang anaknya jauh lebih dekat dengan asisten rumah tangga dibanding dirinya. Sang Ibu harus memilih antara karier atau anak yang terasa semakin jauh dari dirinya. Saya yang dibesarnya dengan tangan penuh ibu saya terkadang membayangkan jika saya mengalami hal yang serupa dengan tokoh si anak dalam cerita tersebut. Apakah saya bisa menjadi diri saya sekarang ini? Apakah saya bisa berada dalam jalan yang relatif cukup lurus?

Lucunya, tepat ketika saya menulis catatan ini, sekelumit biografi tentang Margaret Tatcher ditayangkan di Metro TV. Ingatan saya melayang pada beberapa hari yang lewat, ketika saya menonton film “Iron Lady”, yang notabene merupakan biografi Tatcher, dimainkan sangat apik oleh Meryl Streep.

Denis Tatcher, suami Margaret Tatcher dalam film itu digambarkan sangat mendukung karir istrinya. Pertengkaran sesekali tidak membuat Tatcher goyah dan menghentikan karir politiknya, termasuk ketika protes sang anak datang. Tapi tentu film tersebut tidak cukup menggambarkan kehidupan Tatcher yang sesungguhnya, bagaimana sebetulnya pergolakan yang dialami keluarga Tatcher mengenai karir berpolitiknya.

Tatcher juga bukannya tidak butuh keluarga. Hal ini digambarkan dalam film itu, ketika Tatcher memasuki masa lanjut usia, dan ditinggal wafat sang suami, Tatcher seakan lepas dari realitas. Dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Denis sudah meninggal, ditandai dengan gejala delusional yang dia alami setiap hari. Seakan suaminya ada di sampingnya. Ia menyiapkan segala keperluan sang suami, seperti baju, makan malam, dan mengobrol di malam hari.

Lepas dari kontroversi sudut pandang film —yang dinilai sangat ‘Partai Buruh minded‘ padahal Tatcher berasal dari Partai Konservatif di Inggris— , saya dapat menarik pelajaran, bahwa

“Di balik laki-laki yang sukses ada perempuan yang hebat, dan di balik perempuan yang hebat, ada laki-laki yang sabar.”

Kesabaran Denis membuat Margaret tak bisa move on, sekalipun Denis sudah tiada.

Dukungan pasangan dalam rumah tangga bagi karir seorang perempuan sangat penting. Tapi bagi saya, jauh lebih penting dukungan anak. Saya sendiri mau, jika memang harus full di rumah dan mengurus anak-anak. Karena itulah yang saya dapatkan, dan saya bertekad memberikan hal yang sama, bahkan lebih.

Tapi tentu ke depan banyak tantangan. Karena ada institusi yang menaungi saya, dan ada kontrak yang tertandatangani. Apalagi, jika saya keburu melanjutkan sekolah. Kontraknya akan semakin panjang. Senior saya yang perempuan memiliki dinamika masing-masing dengan kehidupan rumah tangganya. Mereka bisa melewatinya atau paling tidak berusaha melewatinya. Tapi sungguh sejujurnya, saya ingin mendampingi anak saya, sedetil-detilnya hidup mereka. Bisa tidak ya 😐

Saya jadi teringat cerita seorang teman yang menjadi guru di sekolah dasar islam internasional di Yogyakarta. Dia mendapati salah seorang muridnya memiliki orangtua yang hampir tidak ada di rumah, melesat dengan karir masing-masing. Tapi tidak lantas membuat anak itu kehilangan respek atas orangtuanya, bahkan prestasinya cukup cemerlang. Teman saya berkata pada saya, “Terkadang kita memang menggunakan hitung-hitungan manusia dalam menakar segala hal. Kalo orangtua sibuk, anak cenderung merasa brokenhome. Begitu kan asumsi kita?!” Saya mengangguk mengiyakan.

Dia melanjutkan, “Tapi, Din, percayakah kamu pada keberkahan rejeki? Ketika orangtua sibuk tungganglanggang menggali rejeki, menebar kemanfaatan untuk manusia lain, dan meniatkan semuanya dengan tulus hanya untuk meraih ridhoNya, maka Allah akan menjaga anak-anak yang mereka tinggalkan di rumah, dengan caraNya, di luar perkiraan kita.”

Saya terdiam. Berpikir dalam-dalam. Ah, karir dan keluarga sejatinya memang tak perlu dibentur-benturkan. Semua kembali ke seberapa tulus niat kita untuk menjadi manfaat bagi sesama manusia, dan meraih ridhoNya. Yang penting orang yang berhak atas kita mendapatkan haknya, termasuk anak. Bagaimana menurut pendapatmu? 😀

*ah saya baru sadar, saya belum punya anak. Dan belum menikah. Haha.

Jakarta, 9 Februari 2012

Kebetulan

Sebelum hari gelap. Sebelum tubuh berkarat.

Di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Sampah apa itu kebetulan? Kalau saja memang ‘betul’ ekuivalen dengan kata ‘benar’, tapi mengapa kata ‘kebetulan’ dan ‘kebenaran’ memiliki impresi dan makna yang jauh berbeda?

Sebetulnya catatan ini dibuat untuk membuang sisa-sisa pemikiran yang mengendap tak tahu mau ditaruh dimana. Seharian menulis usulan proyek, dan tiba-tiba buntu. Akhirnya saya memilih menulis hal lain saja.

Di tengah-tengah kepenatan dan rasa inferior yang tinggi terhadap apa yang saya kerjakan sekarang, dipikiran saya selalu terlintas bahwa ‘kebetulan saya berada di institusi ini, dimana keinginan untuk mengembangkan ilmu (politik) harus tinggi.’ Well, karir akademik sama sekali tidak ada dalam daftar ‘Saya-Ingin-Jadi-Apa’ ketika selesai kuliah. Tapi setelah melihat curriculum vitae yang update beberapa bulan lalu, menelusuri risalah hidup saya sejak lahir hingga saat ini, ternyata karir yang saya bangun adalah karir akademik. UKM penalaran, menang PIMNAS, hibah riset… Zzz…

Jadi, masih menganggap ini sebuah kebetulan?!

Seriously, saya belum memahami konsep Qada dan Qadar secara penuh, karena itu materi yang berat. Tapi bukan berarti lalu saya menyerah, dan kemudian menyerah pada apa yang namanya ‘kebetulan’. Lalu kenapa pikiran semacam tadi bisa datang, heh? *head bang to the wall*

Dan akhirnya saya teringat diskusi dengan seorang kawan waktu kuliah dulu. Bahwa percaya semua hal yang terjadi adalah kebetulan, maka bisa jadi aqidah-nya terganggu. Karena ia meragu, bahwa ada Sang Maha Pengendali, Al Qaabiir. Bahkan daun yang jatuh pun karena tertiup angin pun sudah tertulis di Lauhul Mahfudz. Astaghfirullah, semoga dihindarkan dari ketergangguan aqidah, dalam bentuk sekecil apapun.

Ini bukan kebetulan. Sudah jalannya begini, karena saya dipercaya olehNya, mengemban amanah ini. Jadi mari jalani dengan sebaik-baiknya.

Dan waktu buka puasa yang sudah tiba ini juga pasti bukan kebetulan, kan? 😀

Jakarta, 6 Februari 2012

Sebelum 24

Dua minggu lebih tidak posting blog. Wow, that’s pretty s*cks. Setelah janji-janji bertahun-tahun lalu yang terus diulangi dan tidak ditepati, mulai ada rasa bersalah sekarang mengingkari. Apalagi sejak ada aplikasi wordpress di handphone 😀

Sebenarnya bukan malas posting, tapi kebanyakan post menumpuk begitu saja di phone drafts. Entah malas meneruskan, kehilangan mood untuk menyelesaikan, atau mengurungkan niat untuk mem-publish-nya.

Sebentar lagi usia saya berkurang. D*mn, tiba-tiba udah mau seperempat abad aja gituh. Satu hal yang harus saya kerjakan sebelum usia 24 adalah perpanjang SIM C! 😀 Setelah perjuangan mencari mobil SIM keliling tak menemui hasil, saya menemui dukun terbaik. Mbah Google ini memang bikin ketergantungan ya. Kata si Mbah, ada Gerai SIM di Blok M Square. Besok kesana aah, mumpung load pekerjaan sedikit ringan. Okay, off to go. Next I’ll see ya with a better topic ya :p *nyadar gitu topik posting ga penting*

Orangutan dan Saya

Ini bukan post yang hendak memberitakan pembantaian orangutan, karena saya yakin sudah banyak yang menuliskannya. Ini hanya sekedar post yang menceritakan sekelumit pengalaman saya dengan binatang yang nama latinnya Pongo Pygmaeus ini.

Perusahaan tempat ayah saya bekerja memiliki sebuah majalah internal, yang diberikan pada karyawan dan stakeholder terkait secara periodik. Ketika saya masih SD, ada pemberitaan mengenai rehabilitasi orangutan yang dilakukan oleh salah satu divisi dalam perusahaan tersebut, sebagai bagian dari tanggungjawab sosial mereka.

Orangutan yang direhabilitasi adalah orangutan yang sedang sakit (atau kira-kira rentan oleh penyakit), dan yang ditangkap oleh masyarakat yang belum teredukasi, atau terhadap ancaman lain. Mereka dirawat, dibantu beradaptasi kembali dengan alam, lalu benar-benar dilepaskan ke habitatnya.

Selama dalam perawatan, orangutan-orangutan itu diberi nama, mungkin untuk kemudahan dalam membedakan. Dan, salah satu orangutan betina tersebut diberi nama Dini, dan diberitakan dalam majalah internal perusahaan. Alhasil, ketika majalah internal itu diedarkan, saya menjadi bulan-bulanan di sekolah. Ya, majalah itu tidak hanya dibaca oleh para orangtua yang bekerja, tetapi juga anak-anak mereka, termasuk teman-teman saya. Sebagaimana anak kecil lainnya, saya merasa terganggu. Disamakan dengan orangutan bukanlah hal yang menyenangkan saya pikir waktu itu. Apalagi saya waktu itu menganggap orangutan mengerikan, jahat, kejam, dsb. Lama-kelamaan, berita itu menguap begitu saja. Teman-teman juga telah berhenti menyama-nyamakan saya dengan orangutan.

Di suatu sore yang cerah, saya menikmati sesi bermain dengan anak tetangga dan beberapa sepupu yang kebetulan sedang berlibur di rumah kami. Semuanya laki-laki, kecuali saya dan kakak saya. Karena mereka laki-laki maka mereka berani mencoba permainan yang sedikit ekstrim. Mereka masuk ke hutan di depan rumah saya, agak dalam. Saya dan kakak dengan takut-takut mengikuti. Mereka mencari akar gantung untuk digelantungi. Ingin meniru Tarzan, rupanya. Agar mudah dipegang, akar gantung itu diikat dengan sebatang kayu secara horizontal. Not bad, kami yang masih kecil ini bisa memegang dan bergelantungan sambil berteriak “Auooo..” dengan lantang tanpa harus merasa takut jatuh karena permukaan akar gantung yang licin. Asik sekali 😀

Tiba-tiba seekor orangutan betina mendekat. Kami takut sekali waktu itu. Tetapi dia tidak melakukan apapun, kecuali duduk di dekat kami, dan menatap kami lekat-lekat. Kami terkesima. Sepupu-sepupu saya yang lelaki memilih untuk tetap bergelantungan, sedang saya, lebih memilih untuk melihat dari dekat si orangutan betina. Kami berhadap-hadapan, menatap satu sama lain. Saya tersenyum, merespon bentuk bibirnya yang memang seperti menyunggingkan senyum. Kakak saya berlari ke dalam rumah, memberitahu ayah kami. Saya juga berlari ke rumah, untuk mengambil beberapa buah pisang.

Saya kembali terlebih dahulu dan menyerahkan pisang yang sudah saya bawa. Dia mengulurkan tangannya, mengambil pisang itu, mengupasnya, dan memakannya. Saya semakin terkesima. Ayah kami ternyata menyusul. Beliau hanya memperingatkan saya untuk tidak menyentuhnya. Takut ada reaksi yang tak diduga, dan lagipula, DNA orangutan dan manusia itu mirip. Takut ada penyakit bisa masing-masing kami tularkan. Tak apa tak boleh menyentuhnya. Menatapnya dari dekat sudah cukup buat saya.

Setelah pisang habis, dia perlahan pergi ke hutan yang lebih dalam. Saya sedikit kecewa, tapi terlalu takut untuk mendekat. Tapi saya tahu, dia dan saya, telah memahami bahwa kami bukan ancaman bagi masing-masing. Dan tidak sepatutnya seperti itu. Karena itu, ketika manusia merasa terancam dengan orangutan, mungkin dia perlu berkaca, bahwa sejatinya dialah yang telah mengancam hidup orangutan.

Think Again (Courtesy BOS Australia)

Think Again (Courtesy BOS Australia)

kambing hitam

Saya bukan penggemar kambing sejati. Kalau ada daging kambing, saya makan sedikit saja. Baunya prengus dalam istilah ibu saya. Entah apa definisinya. Tapi yang jelas, saya sepakat.

Yang saya tahu, manusia itu mahluk yang butuh kambing. Terutama kambing hitam. Saya tidak tahu darimana istilah itu berasal. Tapi sepanjang kehidupan manusia, agaknya ‘binatang’ ini yang paling sering dicari.

Manusia itu mahluk yang penuh dengan penolakan. Denial, kata anak sekarang. Setiap ada kegagalan menghampiri, penolakan hampir menjadi rasa yang tak pernah absen dalam hati, sekecil apapun ukurannya. Dan penolakan biasanya melahirkan rasa yang sedikit berbahaya, menyalahkan sesuatu atas penyebab kegagalan, mencari kambing hitam.

Kambing hitam itu bisa orang lain, bisa diri sendiri. Bisa mahluk hidup maupun benda mati. Seperti apa yang saya rasakan. Sejak pagi saya terus mencari kambing hitam atas ketidaknyamanan yang saya rasakan hari ini.

Dan keputusan ‘memelihara’ kambing hitam hingga malam ini tiba-tiba saya sesali. Tidak selesaikan masalah, malah buat saya makin gelisah. Saya inih! *nonjok diri sendiri*. Okay, sepertinya saya sedang mencari kambing lain yang juga berwarna hitam. Cukup.

Malam ini kambing hitam akan saya ikat dengan rangkaian kata dalam postingan ini. Tapi ketika malam semakin larut dan kesadaran saya menyurut, semoga kambing hitam yang sedang mengembik-embik di kepala saya ini bisa pergi. Tapi cara yang paling efektif adalah menjadi tukang jagal pada setiap kambing hitam yang kita hadirkan. Pada setiap penolakan yang kita ciptakan sendiri.

mimpi

*untukmu yang ingin pindah jurusan

Question of The Day: Apakah saya hari ini merupakan mimpi saya yang kemarin?

Saya adalah orang yang penuh mimpi. Kalo inget dulu pas jaman SD ngebaca Buku Pintar punya kakak saya yang banyak banget informasi di dalamnya termasuk soal shio-shio an. Saya yang tergolong shio kelinci ini termasuk kelinci pemimpi, malas bekerja. Rese banget kan tu buku, bilangin saya males. Walopun kadang ada benarnya :p

Mimpi itu kata temen saya yang bagus banget kemampuan leksikalnya, adalah visi atau tujuan. Misalnya ni kamu dalam perjalanan, nah, tujuan perjalanan kamu dimana? Dimana perjalanan kamu ini berhenti? Itulah mimpi. Sedangkan dengan apa kamu mencapainya itu soal operasional. Ibarat perjalanan (lagi), kamu bisa naik bus, mobil, pesawat, roket atau UFO sekalipun. Ganti-ganti juga boleh. Abis mobil, eh bosen trus ganti pesawat, sah-sah aja. Atau naek pesawat trus pesawatnya jatoh, ganti naek mobil (asal pastiin dulu kamu masih idup pasca jatuhnya pesawat yang kamu tumpangi ;p) gapapa juga. Yang penting sampai di tujuan kamu.

Saya ingat sekali, ketika SMA, saya punya mimpi barengan (cieeh, SMA banget yah) sama temen (lumayan) deket saya. Kami ingin berkontribusi buat daerah kami (haha, ckckck), Kutai Timur. Namanya juga visi, abstrak banget kan. Karena itu,kami punya misi, mengambil jurusan (di universitas) yang berkaitan dengan pemerintahan, karena kami memandang, daerah ini lack of good human resources who can govern well. Yep, we wanted to be part of the government. Terserah mau PNS mau kagak, yang jelas, berkontribusi melalui jalur pemerintahan. Dan disanalah kami, berusaha dan menyemangati satu sama lain.

Ternyata kami memilih ‘kendaraan’ yang berbeda. Dia lebih memilih tes di suatu institut milik departemen pemerintah sedang saya konsisten tes di universitas biasa. Alasan saya simple waktu itu, I’m not interested at all ngelamar di institute yang sama. Dia keterima, saya juga.

Di bulan-bulan pertama saya kuliah, saya menggila. Bukan karena saya seneng, tapi karena saya pusing. What the hell is this? Dosen ini ngomong apa sih?! Ini mata kuliah apaan?! Ohmaigat I just don’t get it! Saya merasa bodoh. Well maybe I am. Godaan untuk pindah jurusan sangat besar. Saya sempat bilang ke ortu saya, bahkan. Dan tanggapan mereka, kagetlah. Intinya mereka bilang bahwa saya akan menyia2kan 1 tahun dalam hidup saya karena harus mengulang setahun itu. Tapi basically, semua pilihan diserahkan ke saya.

Walaupun berniat pindah jurusan, saya berusaha memahami kuliah2 itu, setidaknya untuk satu tahun. Walaupun sulit sekali. Kemampuan IPS saya dipertanyakan. Padahal, hey I’m so IPS you know?! Maksudnya ga bisa ngitung dan langsung pusing liat angka. Haha. Bagusnya, saya berteman baik sama orang yang pinter. Paling tidak, wacana saya terasah, dari diskusi2 sama dia. Yes, you need a very good environment. Yang membuat kamu nyaman berada di situ, yang membuatmu yakin bahwa kamu tidak salah jurusan.

Ujian semester pertama, wasn’t so good for me. Walopun ga jelek2 banget, It was the worst grade I’ve ever got. Keinginan untuk pindah jurusan muncul lagi. Tapi saya kemudian teringat, memang bagaimana saya bisa sampai disini?! Selain tentu saja takdirNYA, bagaimanapun INI ADALAH PILIHAN SAYA! MIMPI SAYA yang DIA kabulkan.

Kenapa saya jadi tidak bersyukur, dan dengan mudahnya berpaling? Di luar sana banyak sekali mahasiswa yang terpaksa masuk jurusan dimana dia berada sekarang, karena keinginan ortu yang tak dapat ditawar2. Ada yang menjalani dengan tabah, ada pula yang berontak, dan akhirnya semua berantakan, bahkan ada yang sampai gila. Lalu saya, yang memang sedari awal menginginkan ini, dan Allah melancarkan usaha saya, masih punya muka buat pindah keinginan?!

Saya melewati masa-masa kuliah dengan ceria. Kekuatan mimpi itu yang menceriakan saya. Ketika saya merasa jatuh, tak berkemampuan, saya selalu mengingat bahwa inilah mimpi saya. Jalani saja. Jalani. Kalo memang Dia meridhoi maka akan dimudahkanNYA, kalo Dia tidak meridhoi maka akan saya akan dihentikan, bagaimanapun caranya. Simple saja. Akhirnya saya mengakhiri kuliah dengan nilai yang kuantitatif yang  tidak terlalu buruk, dan nilai kualitatif yang buat saya pribadi, tak terukur (karena saya merasakan banyak manfaat pada proses 5 tahun itu). Allah bahkan memberi saya kesempatan, untuk berkontribusi di lingkup yang lebih luas, bukan semata di tingkat kabupaten. DIA memang MAHA BAIK.

Saya tahu, mungkin beberapa ada yang tidak sepakat. Mimpi masa SMA itu katanya mimpi bocah. Tanpa pikir panjang, tanpa melihat lebih jauh apa yang kira2 di depan sana. Tapi dia tetaplah mimpi, formulasi dari kesukaan, minat, dan keinginan kita. Jadi buat saya, semuda apapun usia kita dalam memimpikan sesuatu, itu bukan masalah. Bahkan banyak sekali kan, orang yang bisa mencapai sesuatu yang dimimpikannya ketika kecil, lebih bocah daripada usia SMA?!

Jadi, kenapa harus mengingkari mimpi sendiri? Ketika dalam penglihatan kita mimpi itu nyaris tidak tercapai dengan mudahnya kita membuangnya dan merajut mimpi lain?! Lalu jika mimpi lain itu nyaris tidak tercapai lagi, maka kita akan berbuat hal yang sama? Punya muka berapa untuk berbuat demikian? Padahal, sering sekali manusia itu, memilih untuk berhenti, ketika jalan keluar itu sudah tinggal beberapa langkah. Sampai kapan kita jadi pengecut, bahkan menghadapi mimpinya sendiri tidak berani.

Tapi, jika kau memang merasa ini bukan mimpimu, maka hentikan sekarang juga dan segara rajut mimpi baru, yang kau tekadkan akan kau kejar setengah mati sampai kau benar-benar menggapainya, betapapun berdarah-darahnya dirimu.

Untukmu yang duduk di situ, apakah kau hari ini adalah mimpimu kemarin?

Climb ev’ry mountain, ford ev’ry stream,
Follow ev’ry rainbow, till you find your dream.

Oscar Hammerstein II (1895 – 1960)

Rasanya Baru Kemarin

Rasanya baru kemarin, aku mengeja perlahan-lahan, kata demi kata yang tertulis di buku belajar membaca, sambil sedikit-dikit melirik ibu yang tak lelah mengawasi, di kamar kontrakan kami yang sempit itu.

 

Rasanya baru kemarin, ibu memasakkan nasi kuning lengkap dengan lauk pauk di hari jadiku yang kelima, di tahun pertama kita pindah kerumah kayu yang indah ini.

 

Rasanya baru kemarin, ayah mengantarkanku ke taman kanak-kanak yang baru dibangun itu, dengan vespanya yang gagah.

 

Rasanya baru kemarin, ayah mendatangi acara pelepasan taman kanak-kanak dimana aku menjadi deklamator puisi, karena diantara siswa lain aku lebih pandai membaca.

 

Rasanya baru kemarin, ibu membelikan seragam merah putih yang baru, karena yang lama sudah sempit sekali.

 

Rasanya baru kemarin, ayah bertanya tentang nama anak laki-laki yang berani datang ke rumah dengan seragam putih biru itu.

 

Rasanya baru kemarin, ibu memberi pesan, untuk lebih menjaga diri karena aku sudah mulai beranjak remaja.

 

Rasanya baru kemarin, aku terlambat pulang sekolah, mampir dan jajan di suatu tempat dengan para sahabat, bangga mengenakan putih abu-abu kami.

 

Rasanya baru kemarin, aku duduk di teras rumah belakang menatap langit yang  bersih dan awan yang bergumpal-gumpal, berpikir sebentar lagi akan pergi jauh untuk menuntut ilmu.

 

Rasanya baru kemarin, ibu meninggalkanku di kamar sewaan di dekat kampus, dengan isak yang ditahan dan air mata yang berkali-kali dihapus.

 

Rasanya baru kemarin, petuah-petuah ayah menghiasi pembicaraan sambungan langsung jarak jauh dua minggu sekali, agar aku menjaga amanahnya untuk baik-baik menuntut ilmu.

 

Rasanya baru kemarin, pesan singkat yang kukirim kepada ibu mengabarkan bahwa aku akan segera memakai toga.

 

Rasanya baru kemarin, dadaku sesak, perpisahan dengan saudara seperjuangan di jogja begitu berat.

 

Rasanya baru kemarin, aku menempati kamar lamaku dengan suasana baru, kembali ke rumah kayu ini.

 

Rasanya baru kemarin, ayah mengantarkanku ke bandara, untuk menuju ibu kota, dengan pandangan yang penuh harapan.

 

Rasanya baru kemarin, ayah dan ibu mengucapkan syukur, atas kabar yang kuberikan.

 

Rasanya baru kemarin, hari-hari itu kulewati.

 

Rasanya baru kemarin tapi aku sudah harus pergi lagi untuk mengabdi pada negeri.

 

Rasanya baru kemarin…