Happily Ever After

Saya tiba-tiba terusik, selepas menonton film Indonesia “Merantau”. Film itu bukanlah film baru, tapi saya tetap tertarik untuk menonton dan mengulasnya di sini. Memang akhir-akhir ini saya agak jarang nonton film bergenre action, genre film yang cukup tidak menarik buat sineas Indonesia yang hobi bikin film horror sekaligus mesum. Lho, kok jadi ngelantur ya. Hehe.

Ya, sekali lagi saya terusik. Bahkan sangat terusik. Saya mengingat beberapa adegan terakhir yang entah mengapa tak jua hilang dalam kepala saya. Saya bukan tak suka akting pemainnya, atau adegan action yang menurut saya berada di level ‘diatas lumayan’ untuk ukuran Indonesia. Tapi saya terusik dengan endingnya.

Ending film itu sangat berbeda dengan apa yang saya bayangkan—lebih tepatnya saya inginkan. Film Merantau ‘menakdirkan’ sang tokoh utama, Yuda, untuk tewas dalam sebuah perkelahian sengit melawan bos sindikattrafficking internasional. Si musuh juga tewas sebenarnya, tapi itu tak jua menenangkan hati saya. Saya senang dengan film ini, dan akan lebih senang jika melihat Yuda bisa sukses merantau di Jakarta jadi guru silat dan akhirnya bisa pulang menemui Ibunda di Minang (sungguh, mengenai kisah cinta saya tak terlalu ambil pusing). Tanpa sadar, saya telah terkonstruksi untuk selalu melihat ending yang bahagia dari sebuah cerita, atau yang biasa dideskripsikan sebagai happily ever after. Dan ketika itu tak saya dapatkan, saya kesal dan kecewa.

Siapa sih yang tak menginginkan akhir yang bahagia dalam perjalanan hidup mereka? Saya pikir tidak ada. Atau kalaupun ada, jumlahnya jauh lebih sedikit daripada orang yang menginginkan sebaliknya.
Saya jadi teringat salah satu film yang sudah 5 kali saya tonton, Shrek The 3rd. Film buatan Dreamworks ini kurang lebih mengisahkan upaya perampasan ‘happily ever after’ oleh tokoh antagonis dalam dongeng anak-anak (seperti Captain Hook dari dongeng Peter Pan, kakak tiri Cinderella, nenek sihir yang di cerita Snow White, dll) yang dikomandoi Prince Charming dari tokoh protagonis yang diwakili oleh Shrek. Orang jahat juga ingin bahagia, kalee. Tapi kemudian, Prince Arthur—pewaris tahta kerajaan Far Far Away yang juga sepupu Princess Fiona, istri Shrek—menyadarkan pasukan tokoh antagonis untuk menjemput sendiri ‘happily ever after’ mereka tanpa harus merebutnya dari orang lain.

Cerita di atas membuat saya berpikir lebih dalam, apa sebenarnya ‘happily ever after’ yang kebanyakan manusia inginkan? Uang banyak? Rumah mewah? Jabatan tinggi? Sukses dunia akhirat? Saya berhenti berpikir sejenak. Akhirat, ya akhirat. Itulah tempat dimana kita akan menikmati ‘happily ever after’ atau ‘bahagia selama-lamanya’. Tentu bisa bahagia jika tempatnya enak, ga panas—yang ga kebayang panasnya kayak apa.

Pastinya ‘happily ever after’ tidak akan bisa kita dapatkan dengan ongkang-ongkang kaki. Harus ada usaha. Semua orang punya cara masing-masing, tergantung kehidupan yang dijalani. Tapi yang jelas, ‘happily ever after’ tidak akan bisa kita capai tanpa menuruti apa yang diperintahkan oleh Dzat Al Wakiil, The Trustee One.

Selamat mencari ‘happily ever after’-mu!

Advertisements

KUASA MEDIA DALAM FILM “TOMORROW NEVER DIES”

oleh Dini Suryani
Kelas A1-2

Film ini merupakan salah satu seri dari cerita mengenai agen rahasia Inggris bernama James Bond atau lebih dikenal dengan kode 007. Dalam petualangannya kali ini, James Bond diutus untuk menggagalkan upaya penciptaan Perang Dunia ke-III antara kubu Timur dan Barat yang dalam film ini diwakili oleh China dan Inggris. Perang Dunia ke-III tersebut berusaha diciptakan oleh seorang boss grup media berjaringan internasional, Elliot Carver, demi satu tujuan: membuat berita besar dan dapat menyiarkan/mempublikasikannya pertama kali kepada dunia!

Saat ini, informasi telah menjadi sebuah modal kekuatan yang tak terkalahkan. Information is power. Meski ‘musuh’ kita memiliki senjata tercanggih sekalipun, namun kita memiliki informasi mengenai kelemahannya, maka senjata musuh menjadi tak ada artinya bagi kita. Kira-kira itulah yang menjadi ide dasar dari film ini. Bahwa informasi merupakan suatu alat dominasi yang efektif baik itu terhadap seseorang, suatu kelompok masyarakat, maupun suatu negara. Dalam film ini banyak adegan yang terang-terangan memperlihatkan hal tersebut. Salah satunya adalah ketika Carver mengancam seorang presiden negara lain untuk memberikan hak siar kepada perusahaannya untuk waktu yang panjang di negara tersebut, atau Carver akan menyiarkan video ‘kotor’ sang presiden ke seluruh dunia. Pada dialog selanjutnya, Carver menyatakan apapun tindakan sang presiden, memberikan hak siar atau tidak, video ‘kotor’ tersebut akan tetap disiarkan. Lagi, informasi adalah kekuatan.

Dalam perencanaan Perang Dunia ke-III nya, Carver menggunakan metode adu domba dengan meluncurkan misil kepada kedua negara melalui ‘kapal siluman’ miliknya. Sehingga Inggris mengira China yang menyerang mereka, dan sebaliknya, China mengira Inggris yang menyerang mereka. Esoknya, headline pemberitaan (yang tentu diberitakan oleh perusahaan media milik Carver, sebagai pihak yang ‘pertama-kali-tahu’) semakin memperuncing keadaan. Hal ini sekali lagi menunjukkan pada kita bahwa kata-kata sejatinya tak hanya dimaknai sebagai sekedar kumpulan huruf, namun lebih dari itu, kata-kata bisa menjadi sebuah alat untuk menguasai.

Apa yang menjadi ide dasar dari film Tomorrow Never Dies ini seakan menggambarkan realitas yang terjadi pada umat Muslim. Media massa (terutama milik Barat) secara membabi-buta telah menjebak umat Muslim dalam pusaran stigmatisasi yang semena-mena. Istilah-istilah ‘Islam Teroris, Islam Fundamentalis, Islam Ekstrimis’ telah dipopulerkan sedemikian rupa melalui media-media massa dan secara langsung maupun tidak telah menanamkan kebencian penduduk dunia (yang bukan Islam dan tak mengetahui Islam secara sebenarnya) bahkan umat Islam itu sendiri terhadap saudara seimannya.
Misalnya, pada istilah ‘terorisme’. Secara bahasa, istilah terorisme berarti penggunaan kekerasan biasanya untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai suatu tujuan (Marbun, 2005: 530). Ketika beberapa kaum Muslim membunuh beberapa orang Israel, maka disebut terorisme. Namun, pembantaian kaum muslimin di kamp pengungsian Sabra dan Satila oleh Zionis Israel, bukan disebut terorisme. Itu disebut tindakan mendahului (pre-emptive). Atau, jika beberapa warga Palestina mengarahkan pesawat penumpang ke tujuan tertentu, tindakan itu disebut pembajakan (hijacking). Namun, jika angkatan laut Israel menembaki kapal kecil milik kaum muslimin Lebanon dan menggiringnya seperti sekawanan kambing, itu disebut penangkapan (interception). Lihatlah, betapa kata telah menjadi tirani, alat kuasa, dan alat propaganda. Dan adu domba dengan menjadikan umat Muslim sebagai domba hitam berhasil dilakukan.

Senjata fisik sudah tak lagi menjadi pilihan. Inilah yang disebut soft politics atau politik makna (Pratikno, 2007), dimana pemaknaan bukan sebuah objektivitas, namun proses subjektivitas yang dimanipulasi oleh pihak-pihak dominan sehingga memunculkan makna baru yang bisa saja, jauh dari makna sesungguhnya sehingga menimbulkan ambiguitas dan standar ganda. Inilah era ghazwul fikri, dimana kekuatan kata-kata, informasi, ide, pemikiran, telah menjadi senjata paling ampuh untuk menghancurkan, khususnya menghancurkan umat Muslim. Wallahua’lam bi sawwab.

*Ini adalah tugas salah satu subjek pada kuliah ‘kedua’ (yang pada akhirnya tidak saya lanjutkan karena tak pandai mengelola waktu. Hehe:p) yang tak jadi saya kumpulkan beberapa tahun lalu (that’s why film yang dibahas sangat tidak update dan tulisan ini masih sangat aneh—padahal tulisan saya yang sekarang juga masih tetap aneh, haha :D), dengan berbagai perubahan. Anyway, silakan menanggapi, mengkritisi, memperbaiki.