Seharusnya

Hari-hari kemarin terlalu banyak dihiasi kata seharusnya

Seharusnya begini

Seharusnya begitu

Ada sesal yang terkandung

Ada marah yang terselubung

 

Ini bukan soal menyesali kematian

Tapi ini soal menyesal pada orang-orang yang bergerak tidak pada tempatnya

Mengambil tindakan yang tidak seharusnya

Ah, seharusnya

 

Ini bukan soal marah pada takdir

Tapi ini soal marah pada diri yang begitu berat memaafkan

Padahal diri juga orang yang hina bersimbah kesalahan

Maka seharusnya maaf bisa terberikan

Ah, seharusnya

 

Dan bulir-bulir hujan di bulan November

Telah sekuat tenaga mengajarkan keikhlasan

seharusnya bisa meluruhkan penyesalan

seharusnya bisa menghapuskan kemarahan

bahwa tak ada gunanya menyimpan luka

dan memaafkan adalah jawaban

Advertisements

Untukmu Maafkan Saya

Untuk pekerjaan-pekerjaan yang kurang sempurna…

Untuk tindakan-tindakan yang kurang ikhlas…

Untuk perilaku-perilaku yang kurang sabar…

Untuk janji-janji yang batal ditepati…

Untuk menularkan energi-energi yang kurang positif…

Untuk ruku’-ruku’ yang kurang tuma’ninah…

Untuk sujud-sujud yang kurang panjang…

Untuk do’a-do’a yang dirapalkan dengan tergesa-gesa…

dan

Untuk menjadi abdi negara yang sekenanya, anak yang seenaknya, dan hamba yang seadanya.

Maafkan saya.

Food Philosophy: Minahasa’s Tinutuan Porridge

Do you believe that food also has a philosophy? A Roger Scruton’s article which titled “Eating the World: The Philosophy of Food”, showed that food can be examined from multi-perspectives—economic, social, cultural, even moral and spiritual.* Maybe we can understand this food philosophy idea by examining an example. Minahasa’s Tinutuan Porridge probably can be a good one.

Minahasa is the largest ethnic group in North Sulawesi. Minahasans people known for their hospitality. Besides knowing the beautiful culture and nature, it is incomplete if we don’t taste the Minahasan traditional foods. Hot and spicy are the main characteristics of Minahasan foods. They call it as rica which means chili. But the most interesting about the food is Minahasan likes extreme culinary. They eat ‘almost’ everything. There is even a local joke that says Minahasan eat all those have legs, except human and table. They eat bats, forest rodents, snakes, dogs, cats and other animals that you’ve never imagined!

In North Sulawesi, different with majority areas in the west and middle Indonesia, Christian becomes the dominant religion. According to Statistics of the local government, the amount of Christians reached 75% of the population.** In consumption activities, especially eating, Christian doesn’t really have restriction about food, relatively different with Muslim—the religion that professed by most of Indonesians. This fact supports the eating habit of Minahasan. The visitors which come from outside North Sulawesi choose seafood most of the time, since North Sulawesi also famous with their sea richness. They can also choose Tinutuan porridge, a typical food of Minahasan.

The name of Tinutuan comes from the Tuutu (or Tu’tu) word in Minahasan language which means porridge. Tinutuan itself means ‘mixed’ or bercampur in Bahasa Indonesia. But Tinutuan is not only name for this food. It is also called as Peda’al in South Minahasa, and Sinede’an in Tondano, another region of this province.*** In Manado, the capital city of North Sulawesi, this food called as Manado porridge. This name seems more popular than Tinutuan name in the outside of North Sulawesi although it is not the original name.

Different with the other dishes, Tinutuan porridge contains no meat. Rice becomes the main ingredient of the porridge since it is also the main food for most Indonesians. Besides rice, there are only vegetables and tubers which become the ingredients of this porridge. They are spinach, pumpkin, cassava, sweet corn, basil leaves, water spinach, and many mores. It is probably not so easy to identify each of them. Because of its healthy ingredients, for the Minahasan, Tinutuan porridge becomes the main menu at the end of January and early February to neutralize the fatty foods that they consumed on Christmas and New year-eve.

Its ingredients actually describe the natural resources of North Sulawesi. Agriculture becomes the mainstay of this province. From that point, Tinutuan could be seen also as an identity of North Sulawesi. It really shows what North Sulawesi has. Talking about identity, the word ‘Tinutuan’ since 2005 became the motto of Manado City which means all ethnics can be assembled in this city.****

Besides that, Tinutuan porridge becomes the media to improve the relationship among the society. In the past time, Tinutuan usually served at a group of farmers who worked together to complete processing of agricultural land or called mapalus— a cooperation system of Minahasan. It served on long tables are paved with banana leaves. Now, this role is still held by Tinutuan porridge because its ingredients makes it can be eaten by all religious groups in Indonesia. Tinutuan porridge unites the locals and visitors.

In various parts of Manado and other places in North Sulawesi, Tinutuan porridge becomes the source of income for the people. There are so many stalls and restaurants which sell Tinutuan porridge as the main menu. And the famous are at Wakeke Street in downtown Manado.

Finally, through the story of Tinutuan porridge, the idea of food philosophy asks us to believe that food is more than nourishment, and eating activity is more than consumption. There are so many stories behind the food. So, are you interested to examine your today’s dinner food philosophy?

* See Roger Scruton, “Eating the World: The Philosophy of Food”, , downloaded on May 3rd, 2012.
** Badan Pusat Statistik Sulawesi Utara, Sulawesi Utara dalam Angka 2011, BPS, Manado, 2011, (no page number).
***——, “Tinutuan, Bukan Sekedar Rasa”, , downloaded on May 9th, 2012.
**** ——, “Tinutuan”, , downloaded on May 9th, 2012.

Tentang Karir dan Keluarga

Hari ini Kuro, laptop saya, masuk panti rehabilitasi. Error dua minggu cukup untuk membuat saya deg-degan, dan mari kita masukkan dia ke HP Service Center.

Setelah dari pusat pemeliharaan laptop, ingin segera pulang saja. Tapi rasanya sayang jika tidak ke toko buku. Membeli beberapa alat tulis, satu buku non-fiksi dan sebuah novel. Tidak banyak pertimbangan memilihnya. Saya tahu penulisnya sejak SMP, Nurul F. Huda.  Tidak terlalu mengikuti karirnya, meski kami berteman di Facebook. Dia sudah almarhumah. Tahun lalu, dalam usia relatif muda, dan meninggalkan 2 anak yang masih kecil. She was a single mom. Mengenai ini, saya berasumsi almarhumah bercerai dengan suaminya. Karena cerita mengenai suaminya hampir tidak pernah muncul, diiringi dengan tulisan yang semakin menunjukkan ketegaran, juga kesendirian. Wallahua’alam.

Yang saya beli adalah novel terakhirnya sebelum penyakit jantung mengakhiri perjalanan hidupnya di dunia. Judulnya Suami Sempurna. Sejatinya ini bukan novel, tetapi kumpulan cerpen. Saya baru sempat membaca 3-4 cerpen. Salah satu judul yang saya baca bertajuk “Dua Bunda”. Dan saya pasti menangis jika tidak ingat bahwa saya sedang berada di tempat cucian motor. Yak, saya membacanya ketika si Shiro sedang dimandikan oleh mas-mas yang saya tidak tahu namanya 😀

Dua Bunda pada dasarnya bicara soal konflik batin seorang ibu yang anaknya jauh lebih dekat dengan asisten rumah tangga dibanding dirinya. Sang Ibu harus memilih antara karier atau anak yang terasa semakin jauh dari dirinya. Saya yang dibesarnya dengan tangan penuh ibu saya terkadang membayangkan jika saya mengalami hal yang serupa dengan tokoh si anak dalam cerita tersebut. Apakah saya bisa menjadi diri saya sekarang ini? Apakah saya bisa berada dalam jalan yang relatif cukup lurus?

Lucunya, tepat ketika saya menulis catatan ini, sekelumit biografi tentang Margaret Tatcher ditayangkan di Metro TV. Ingatan saya melayang pada beberapa hari yang lewat, ketika saya menonton film “Iron Lady”, yang notabene merupakan biografi Tatcher, dimainkan sangat apik oleh Meryl Streep.

Denis Tatcher, suami Margaret Tatcher dalam film itu digambarkan sangat mendukung karir istrinya. Pertengkaran sesekali tidak membuat Tatcher goyah dan menghentikan karir politiknya, termasuk ketika protes sang anak datang. Tapi tentu film tersebut tidak cukup menggambarkan kehidupan Tatcher yang sesungguhnya, bagaimana sebetulnya pergolakan yang dialami keluarga Tatcher mengenai karir berpolitiknya.

Tatcher juga bukannya tidak butuh keluarga. Hal ini digambarkan dalam film itu, ketika Tatcher memasuki masa lanjut usia, dan ditinggal wafat sang suami, Tatcher seakan lepas dari realitas. Dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Denis sudah meninggal, ditandai dengan gejala delusional yang dia alami setiap hari. Seakan suaminya ada di sampingnya. Ia menyiapkan segala keperluan sang suami, seperti baju, makan malam, dan mengobrol di malam hari.

Lepas dari kontroversi sudut pandang film —yang dinilai sangat ‘Partai Buruh minded‘ padahal Tatcher berasal dari Partai Konservatif di Inggris— , saya dapat menarik pelajaran, bahwa

“Di balik laki-laki yang sukses ada perempuan yang hebat, dan di balik perempuan yang hebat, ada laki-laki yang sabar.”

Kesabaran Denis membuat Margaret tak bisa move on, sekalipun Denis sudah tiada.

Dukungan pasangan dalam rumah tangga bagi karir seorang perempuan sangat penting. Tapi bagi saya, jauh lebih penting dukungan anak. Saya sendiri mau, jika memang harus full di rumah dan mengurus anak-anak. Karena itulah yang saya dapatkan, dan saya bertekad memberikan hal yang sama, bahkan lebih.

Tapi tentu ke depan banyak tantangan. Karena ada institusi yang menaungi saya, dan ada kontrak yang tertandatangani. Apalagi, jika saya keburu melanjutkan sekolah. Kontraknya akan semakin panjang. Senior saya yang perempuan memiliki dinamika masing-masing dengan kehidupan rumah tangganya. Mereka bisa melewatinya atau paling tidak berusaha melewatinya. Tapi sungguh sejujurnya, saya ingin mendampingi anak saya, sedetil-detilnya hidup mereka. Bisa tidak ya 😐

Saya jadi teringat cerita seorang teman yang menjadi guru di sekolah dasar islam internasional di Yogyakarta. Dia mendapati salah seorang muridnya memiliki orangtua yang hampir tidak ada di rumah, melesat dengan karir masing-masing. Tapi tidak lantas membuat anak itu kehilangan respek atas orangtuanya, bahkan prestasinya cukup cemerlang. Teman saya berkata pada saya, “Terkadang kita memang menggunakan hitung-hitungan manusia dalam menakar segala hal. Kalo orangtua sibuk, anak cenderung merasa brokenhome. Begitu kan asumsi kita?!” Saya mengangguk mengiyakan.

Dia melanjutkan, “Tapi, Din, percayakah kamu pada keberkahan rejeki? Ketika orangtua sibuk tungganglanggang menggali rejeki, menebar kemanfaatan untuk manusia lain, dan meniatkan semuanya dengan tulus hanya untuk meraih ridhoNya, maka Allah akan menjaga anak-anak yang mereka tinggalkan di rumah, dengan caraNya, di luar perkiraan kita.”

Saya terdiam. Berpikir dalam-dalam. Ah, karir dan keluarga sejatinya memang tak perlu dibentur-benturkan. Semua kembali ke seberapa tulus niat kita untuk menjadi manfaat bagi sesama manusia, dan meraih ridhoNya. Yang penting orang yang berhak atas kita mendapatkan haknya, termasuk anak. Bagaimana menurut pendapatmu? 😀

*ah saya baru sadar, saya belum punya anak. Dan belum menikah. Haha.

Jakarta, 9 Februari 2012

Kebetulan

Sebelum hari gelap. Sebelum tubuh berkarat.

Di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Sampah apa itu kebetulan? Kalau saja memang ‘betul’ ekuivalen dengan kata ‘benar’, tapi mengapa kata ‘kebetulan’ dan ‘kebenaran’ memiliki impresi dan makna yang jauh berbeda?

Sebetulnya catatan ini dibuat untuk membuang sisa-sisa pemikiran yang mengendap tak tahu mau ditaruh dimana. Seharian menulis usulan proyek, dan tiba-tiba buntu. Akhirnya saya memilih menulis hal lain saja.

Di tengah-tengah kepenatan dan rasa inferior yang tinggi terhadap apa yang saya kerjakan sekarang, dipikiran saya selalu terlintas bahwa ‘kebetulan saya berada di institusi ini, dimana keinginan untuk mengembangkan ilmu (politik) harus tinggi.’ Well, karir akademik sama sekali tidak ada dalam daftar ‘Saya-Ingin-Jadi-Apa’ ketika selesai kuliah. Tapi setelah melihat curriculum vitae yang update beberapa bulan lalu, menelusuri risalah hidup saya sejak lahir hingga saat ini, ternyata karir yang saya bangun adalah karir akademik. UKM penalaran, menang PIMNAS, hibah riset… Zzz…

Jadi, masih menganggap ini sebuah kebetulan?!

Seriously, saya belum memahami konsep Qada dan Qadar secara penuh, karena itu materi yang berat. Tapi bukan berarti lalu saya menyerah, dan kemudian menyerah pada apa yang namanya ‘kebetulan’. Lalu kenapa pikiran semacam tadi bisa datang, heh? *head bang to the wall*

Dan akhirnya saya teringat diskusi dengan seorang kawan waktu kuliah dulu. Bahwa percaya semua hal yang terjadi adalah kebetulan, maka bisa jadi aqidah-nya terganggu. Karena ia meragu, bahwa ada Sang Maha Pengendali, Al Qaabiir. Bahkan daun yang jatuh pun karena tertiup angin pun sudah tertulis di Lauhul Mahfudz. Astaghfirullah, semoga dihindarkan dari ketergangguan aqidah, dalam bentuk sekecil apapun.

Ini bukan kebetulan. Sudah jalannya begini, karena saya dipercaya olehNya, mengemban amanah ini. Jadi mari jalani dengan sebaik-baiknya.

Dan waktu buka puasa yang sudah tiba ini juga pasti bukan kebetulan, kan? 😀

Jakarta, 6 Februari 2012

Sebelum 24

Dua minggu lebih tidak posting blog. Wow, that’s pretty s*cks. Setelah janji-janji bertahun-tahun lalu yang terus diulangi dan tidak ditepati, mulai ada rasa bersalah sekarang mengingkari. Apalagi sejak ada aplikasi wordpress di handphone 😀

Sebenarnya bukan malas posting, tapi kebanyakan post menumpuk begitu saja di phone drafts. Entah malas meneruskan, kehilangan mood untuk menyelesaikan, atau mengurungkan niat untuk mem-publish-nya.

Sebentar lagi usia saya berkurang. D*mn, tiba-tiba udah mau seperempat abad aja gituh. Satu hal yang harus saya kerjakan sebelum usia 24 adalah perpanjang SIM C! 😀 Setelah perjuangan mencari mobil SIM keliling tak menemui hasil, saya menemui dukun terbaik. Mbah Google ini memang bikin ketergantungan ya. Kata si Mbah, ada Gerai SIM di Blok M Square. Besok kesana aah, mumpung load pekerjaan sedikit ringan. Okay, off to go. Next I’ll see ya with a better topic ya :p *nyadar gitu topik posting ga penting*

Relasi Birokrasi dan Politik di Kalimantan Selatan

Relasi politik dan birokrasi adalah topik yang selalu menarik dibicarakan. Secara ideal, birokrasi sepatutnya tak berpolitik, terbebas dari konflik, dan fokus pada proses administratif serta rasional (Asmerom dan Reis, 1996). Di Indonesia, sejak jaman penjajahan Belanda hingga saat ini, birokrasi belum ditempatkan pada posisi yang semestinya; yaitu sebagai organisasi yang mengurus program pemerintah secara profesional. Fungsi dan peran birokrasi senantiasa didistorsi dan dimobilisasi terutama untuk mendukung pihak tertentu secara politik. Hal ini tampak sekali pada masa Orde Baru, di mana birokrasi dijadikan alat untuk mendukung Golkar dan alat kepentingan Soeharto untuk mempertahankan kekuasaannya.

Di era otonomi daerah, tantangan relasi birokrasi dan politik semakin berat. Sejak daerah-daerah melaksanakan pemilihan kepala daerah (pilkada) secara langsung, netralitas birokrasi dipertanyakan karena rentan dijadikan alat pendukung para calon kepala daerah yang berlaga. Netralitas tersebut terasa makin rumit ketika kepala daerah petahana (incumbent) ikut dalam pilkada. Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang ada dalam birokrasi dihadapkan pada situasi dilematis untuk memberi dukungan atau tidak.

Tulisan ini hendak menggambarkan sekelumit cerita mengenai dinamika hubungan antara birokrasi dan politik di Kalimantan Selatan (Kalsel). Relasi birokrasi dan politik di daerah yang juga dikenal sebagai Tanah Banjar ini menarik untuk disimak karena birokrasi dan pelayanan publik di provinsi ini mendapatkan berbagai penghargaan, sehingga dinilai cukup profesional dalam menjalankan fungsinya. Di lain pihak, pilkada di Kalsel terlihat sarat dengan kompetisi politik transaksional. Sejak pilkada dilaksanakan di tahun 2005 untuk pertama kalinya di wilayah ini, indikasi politik uang sudah sangat terlihat jelas (Endang Soesilowati dalam Syarif Hidayat (ed.), 2006). Pada pilkada tahun 2010, politik uang itu semakin terlihat massif (R. Siti Zuhro (et.al), 2011). Politik uang memang menjadi problematika yang muncul ketika pilkada langsung diberlakukan. Lalu bagaimanakah posisi birokrasi dalam dinamika politik lokal semacam ini?

Dua Wajah Paradoksal Birokrasi di Kalimantan Selatan

Dari sisi kinerja, Kalsel termasuk provinsi yang berprestasi dalam aspek pelayanan publik.. Kalsel memperoleh  skor cukup tinggi dalam survei Indeks Prestasi Korupsi Indonesia pada 2008 dan 2010 menurut Transparansi Indonesia (TI). Pada bulan Desember 2009, Kalsel juga mendapatkan Posisi II Terbaik dalam memberikan pelayanan publik berdasarkan survei Integritas oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Selain itu, beberapa Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di wilayah Kalsel mendapatkan penghargaan Citra Pelayanan Prima dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi di tahun 2010. Bahkan, Pemerintah Kalsel mendapatkan tropi penghargaan dari Kementerian Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi dalam penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja Pemerintah (SAKIP) pada Maret 2011.

Namun di sisi yang lain, birokrasi di Kalsel memiliki banyak permasalahan. Di tataran lokal, banyak masyarakat yang tidak percaya atas berbagai macam penghargaan yang telah didapat itu. Skeptisisme ini muncul berdasar pada kinerja pelayanan publik dasar yang belum memuaskan yaitu dalam hal pembuatan KTP dan jaminan kesehatan masyarakat.

Dari sisi kelembagaan, sebagaimana banyak terjadi di daerah lain, ternyata rekruitmen sumber daya birokrat di Kalsel cenderung koruptif dan sarat  unsur nepotisme.  Pasca otonomi daerah diberlakukan, kesempatan bagi masyarakat terbuka luas untuk mengabdi di daerahnya dengan menjadi pegawai di pemerintahan, termasuk di Kalsel. Ada satu hal yang menarik yang patut dicermati. Dalam konteks masyarakat Banjar, dikenal sebuah konsep kekerabatan dengan istilahbubuhan. Konsep bubuhan pada mulanya mengacu pada identifikasi seseorang sebagai warga atau anak kampung tertentu. Seiring perjalanan waktu, istilah bubuhan merujuk pada salah satu identifikasi keberadaan seseorang dalam konteks sosio-kultural masyarakat Banjar (Alfaini Daud, 1997). Konsep bubuhan ini seringkali dijadikan sebagai penyebab rekruitmen birokrat yang nepotistik di Kalsel. Padahal, konsep bubuhan sejatinya menggambarkan sistem kekerabatan yang erat dalam masyarakat, melampaui pertalian darah. Namun konsep ini dimanipulasi oleh sebagian aktor lokal ke dalam praktik politik-ekonomi yang transaksional, khususnya dalam hal rekruitmen sumber daya birokrat. Calon pegawai yang memiliki ‘akses orang dalam’ akan lebih besar kesempatannya untuk masuk ke dalam birokrasi. Hal ini terjadi hingga sekarang, sehingga birokrasi di Kalsel dikenal dengan istilah ‘birokrasi bubuhan’.

Di samping permasalahan kinerja dan kelembagaan, dari sisi tata kelola, pemerintah daerah belum memiliki kemauan politik untuk memperbaikinya secara menyeluruh. Kalsel yang merupakan pilot project good governance dinilai belum membawa perubahan apapun. Kurangnya kemauan politik itu juga terlihat dari 60 persen anggaran hanya untuk belanja pegawai.

Posisi Birokrasi dalam Pilkada di Kalimantan Selatan

Sejak 2005, pilkada di wilayah Kalsel dilaksanakan secara serentak, yaitu terdiri dari pemilihan gubernur (pilgub), dan pilkada 5 kabupaten serta 2 kota. Pilgub 2005 menobatkan Rudi Arifin dan Rosihan NB sebagai pemenang. Pasangan ini didukung oleh partai politik yang relatif besar di Kalsel, yaitu PPP dan PKB. Partai politik bercorak Islam memang menempati tempat yang cukup istimewa di Kalsel karena urang banjar—sebutan untuk masyarakat Banjar, dikenal cukup fanatik dan taat dalam menjalankan agama Islam, hingga mempengaruhi preferensi politik mereka. Kemenangan Rudi-Rosihan ini juga dipengaruhi oleh dukungan (alm.) Tuan Guru Ijai, seorang ulama Islam terkemuka di Kalsel yang memiliki banyak pengikut. Dari sini kita bisa melihat bentuk nyata dari primordialisme keagamaan dan budaya paternalistik yang ada di dalam masyarakat Kalsel.

Pada pilgub selanjutnya, yaitu tahun 2010, Rudi Arifin sebagai gubernur petahana memenangkan kembali pentas politik di tingkat provinsi, namun kali ini berpasangan dengan Rudy Resnawan (pasangan ini dikenal dengan nama “Dua Rudi”). Pasangan ini didukung oleh PPP, Partai Gerindra dan Partai Golkar. Dukungan Partai Golkar terhadap pasangan yang bukan kadernya ini menuai banyak spekulasi, termasuk soal pemberlakuan Peraturan Daerah (Perda) No. 3 Tahun 2008 tentang Pengaturan Penggunaan Jalan Umum dan Jalan Khusus untuk Angkutan Hasil Tambang dan Hasil Perusahaan Perkebunan. Perda yang dibuat pada periode kepemimpinan Rudi-Rosihan ini dinilai menguntungkan seorang pengusaha yang juga petinggi Partai Golkar di Kalsel.

Selain karena mendapat tambahan dukungan dari Partai Golkar—partai terbesar di Kalsel, sebagai gubernur petahana, kemenangan Rudi Arifin sudah diduga oleh berbagai pihak. Apalagi dirasakan bahwa pelayanan publik serentak meningkat. Artinya, birokrasi secara langsung telah dimanfaatkan oleh kandidat gubernur petahana untuk mendapatkan kekuasaan.

Namun pemanfaatan birokrasi oleh kandidat kepala daerah petahana tidak terjadi dalam pemilihan walikota dan wakil walikota Banjarmasin, ibukota Provinsi Kalimantan Selatan. Pilkada yang dilaksanakan bersamaan dengan pilgub ini menarik untuk disimak. Salah satu kandidat walikota yang mengikuti pilkada Banjarmasin adalah walikota petahana, bernama Yudhi Wahyuni. Yudhi dan pasangannya Haryanto diusung oleh tiga partai besar di wilayah Kalsel; PAN, Golkar, dan PKS. Secara logika politik, kandidat pemimpin petahana selalu memiliki kekuatan dibanding kandidat lain dalam suatu pemilihan, termasuk dukungan birokrasi. Selain telah dibuktikan dalam pilgub di tingkat provinsi, survey pra-pilkada mengatakan bahwa Yudhi-Haryanto sangat unggul dengan perolehan suara 40 persen. Tetapi kenyataan berkata lain, pemenang pilkada Banjarmasin adalah Muhidin-Irwan Anshari. Pasangan ini yang sebelumnya dinilai tidak memiliki elektabilitas yang tinggi dan juga didukung oleh partai yang relatif lebih kecil yaitu PBR, Gerindra, dan PKPB.

Terdapat banyak faktor yang bisa menjelaskan kemenangan mengejutkan pasangan Muhidin-Irwan. Selain indikasi penggunaan politik uang yang sangat kuat, kemenangan pasangan tersebut juga terkait dengan minimnya dukungan birokrasi terhadap kandidat walikota petahana. Berbeda dengan kasus pilgub Kalsel di mana birokrasi menjadi mesin politik pendukung kandidat kepala daerah petahana, birokrasi di Kota Banjarmasin justru menolak mendukung Yudhi karena ia dikenal ‘pelit’ di kalangan pegawai negeri di wilayah tersebut. Misalnya saja, ketika Idul Fitri, tidak ada tunjangan hari raya (THR) yang diberikan kepada pegawai birokrasi di Kota Banjarmasin, sehingga para birokrat menolak mendukungnya pada saat pilkada berlangsung. Dengan demikian pertimbangan birokrasi Kota Banjarmasin untuk tidak mendukung kandidat walikota petahana secara politis bukanlah pertimbangan rasional dan netral, tetapi karena memiliki sentimen personal terhadap kandidat tersebut. Ini menunjukkan bahwa birokrasi pada kondisi tertentu tidak lagi tunduk pada pimpinan dan bisa dijadikan mesin politik jika merasa kepentingannya terganggu (pertimbangan pragmatis).

Terhadap satu hal yang menarik dari relasi birokrasi dan politik di Kalsel. Seakan tidak ingin mengalami ‘pengkhianatan’ yang sama oleh para birokrast, walikota Banjarmasin saat ini, Muhidin, membuat sebuah kebijakan yang unik di mana PNS Kota Banjarmasin wajib mengisi Surat Kesetiaan. Surat tersebut berupa surat pernyataan yang berisi 12 poin yang wajib diisi serta dilengkapi materai Rp 6.000. Beberapa poin yang tercantum di dalamnya antara lain menyatakan setia dan menaati semua ketentuan berlaku selama masa kepemimpinan walikota tersebut. Selain itu, mereka harus bersedia melepas jabatan jika dianggap tidak melakukan tugas yang semestinya. Mereka juga diminta berjanji untuk tidak memberikan informasi, melaporkan rahasia pemerintah dan pimpinan pada siapapun, kecuali pada walikota dan wakilnya. Mereka harus bersedia diberhentikan jika melanggar ketentuan.

Adanya surat kesetiaan ini diakui sebagai sebuah kewajaran dan tidak memiliki unsur politis. Tetapi, tentu ini yang merupakan hal yang unik—jika tidak mau dikatakan aneh. PNS sejatinya memiliki kode etiknya sendiri yang telah diikrarkan ketika pengambilan sumpah dilakukan. Kode etiknya meliputi kesetiaan terhadap negara, sesuatu yang jauh lebih besar dibanding sekedar kesetiaan terhadap pemimpin daerah yang masa jabatannya terbatas. Karena itu besar sekali kemungkinannya jika surat kesetiaan ini sangat terkait dengan kepentingan politik walikota dan wakil walikota Banjarmasin.

Birokrasi dalam Pusaran Politik Lokal

Birokrasi yang profesional adalah birokrasi yang memandang politisi dan partai politik secara objektif. Karena bagaimanapun, sepatutnya pegawai negeri sipil berkomitmen penuh untuk mengabdi pada masyarakat (Edgar Gladden, 1956) tanpa diganggu oleh mekanisme politik. Birokrasi yang netral akan menjadikan pemerintahan lebih stabil dan mampu meningkatkan daya saing suatu wilayah.

Pasca diberlakukannya otonomi daerah, gelombang demokratisasi di tingkat lokal semakin menguat dengan dilaksanakannya pilkada. Tetapi diakui atau tidak, proses itu bukannya tanpa masalah. Politik uang dan politisasi birokrasi dalam pilkada adalah beberapa problem yang jamak terjadi di berbagai daerah di Indonesia, termasuk di Kalsel. Sebenarnya menghilangkan pengaruh politik dari birokrasi sama sekali adalah hal yang tidak mungkin (Guy Peters, 2001; Dag Jacobsen, 2006). Maka yang diperlukan adalah penguatan sistem birokrasi yang tahan terhadap pengaruh dan intervensi politik yang negatif (Tri Widodo, 2011).

Penerapan pilkada langsung dan sistem perwakilan multi partai yang terjadi di Indonesia ini telah secara langsung mengganggu netralitas birokrasi. Diperlukan aturan hukum yang jelas untuk mencegah hal ini terus terjadi. RUU Aparatur Sipil Negara (ASN) yang saat ini sedang diproses bisa menjadi oase di tengah dinamika politisasi birokrasi di daerah ini. RUU ASN secara spesifik mengusulkan pasal-pasal yang dapat mencegah pengaruh/ intervensi buruk politik terhadap administrasi birokrasi, termasuk soal rekrutmen pegawai.

Selain dari segi peraturan perundangan, untuk mencegah relasi yang kurang sehat antara birokrasi dan politik, diperlukan juga kemauan dan komitmen politik yang kuat dari pemerintah pusat. Kemauan dan komitmen politik pemerintah pusat itu juga harus beriringan dengan terobosan yang dilakukan oleh kepala daerah untuk mereformasi birokrasi di tingkat lokal (R. Siti Zuhro (et.al), 2011). Tetapi bagaimanapun, peran aktif masyarakat untuk turut mengawasi birokrasi di daerah juga teramat penting demi mencapai birokrasi yang netral dan profesional. [ ]

Artikel ini dapat dilihat juga di situs Pusat Penelitian Politik LIPI: http://www.politik.lipi.go.id/index.php/in/kolom/politik-lokal/576-relasi-birokrasi-dan-politik-di-kalimantan-selatan

Orangutan dan Saya

Ini bukan post yang hendak memberitakan pembantaian orangutan, karena saya yakin sudah banyak yang menuliskannya. Ini hanya sekedar post yang menceritakan sekelumit pengalaman saya dengan binatang yang nama latinnya Pongo Pygmaeus ini.

Perusahaan tempat ayah saya bekerja memiliki sebuah majalah internal, yang diberikan pada karyawan dan stakeholder terkait secara periodik. Ketika saya masih SD, ada pemberitaan mengenai rehabilitasi orangutan yang dilakukan oleh salah satu divisi dalam perusahaan tersebut, sebagai bagian dari tanggungjawab sosial mereka.

Orangutan yang direhabilitasi adalah orangutan yang sedang sakit (atau kira-kira rentan oleh penyakit), dan yang ditangkap oleh masyarakat yang belum teredukasi, atau terhadap ancaman lain. Mereka dirawat, dibantu beradaptasi kembali dengan alam, lalu benar-benar dilepaskan ke habitatnya.

Selama dalam perawatan, orangutan-orangutan itu diberi nama, mungkin untuk kemudahan dalam membedakan. Dan, salah satu orangutan betina tersebut diberi nama Dini, dan diberitakan dalam majalah internal perusahaan. Alhasil, ketika majalah internal itu diedarkan, saya menjadi bulan-bulanan di sekolah. Ya, majalah itu tidak hanya dibaca oleh para orangtua yang bekerja, tetapi juga anak-anak mereka, termasuk teman-teman saya. Sebagaimana anak kecil lainnya, saya merasa terganggu. Disamakan dengan orangutan bukanlah hal yang menyenangkan saya pikir waktu itu. Apalagi saya waktu itu menganggap orangutan mengerikan, jahat, kejam, dsb. Lama-kelamaan, berita itu menguap begitu saja. Teman-teman juga telah berhenti menyama-nyamakan saya dengan orangutan.

Di suatu sore yang cerah, saya menikmati sesi bermain dengan anak tetangga dan beberapa sepupu yang kebetulan sedang berlibur di rumah kami. Semuanya laki-laki, kecuali saya dan kakak saya. Karena mereka laki-laki maka mereka berani mencoba permainan yang sedikit ekstrim. Mereka masuk ke hutan di depan rumah saya, agak dalam. Saya dan kakak dengan takut-takut mengikuti. Mereka mencari akar gantung untuk digelantungi. Ingin meniru Tarzan, rupanya. Agar mudah dipegang, akar gantung itu diikat dengan sebatang kayu secara horizontal. Not bad, kami yang masih kecil ini bisa memegang dan bergelantungan sambil berteriak “Auooo..” dengan lantang tanpa harus merasa takut jatuh karena permukaan akar gantung yang licin. Asik sekali 😀

Tiba-tiba seekor orangutan betina mendekat. Kami takut sekali waktu itu. Tetapi dia tidak melakukan apapun, kecuali duduk di dekat kami, dan menatap kami lekat-lekat. Kami terkesima. Sepupu-sepupu saya yang lelaki memilih untuk tetap bergelantungan, sedang saya, lebih memilih untuk melihat dari dekat si orangutan betina. Kami berhadap-hadapan, menatap satu sama lain. Saya tersenyum, merespon bentuk bibirnya yang memang seperti menyunggingkan senyum. Kakak saya berlari ke dalam rumah, memberitahu ayah kami. Saya juga berlari ke rumah, untuk mengambil beberapa buah pisang.

Saya kembali terlebih dahulu dan menyerahkan pisang yang sudah saya bawa. Dia mengulurkan tangannya, mengambil pisang itu, mengupasnya, dan memakannya. Saya semakin terkesima. Ayah kami ternyata menyusul. Beliau hanya memperingatkan saya untuk tidak menyentuhnya. Takut ada reaksi yang tak diduga, dan lagipula, DNA orangutan dan manusia itu mirip. Takut ada penyakit bisa masing-masing kami tularkan. Tak apa tak boleh menyentuhnya. Menatapnya dari dekat sudah cukup buat saya.

Setelah pisang habis, dia perlahan pergi ke hutan yang lebih dalam. Saya sedikit kecewa, tapi terlalu takut untuk mendekat. Tapi saya tahu, dia dan saya, telah memahami bahwa kami bukan ancaman bagi masing-masing. Dan tidak sepatutnya seperti itu. Karena itu, ketika manusia merasa terancam dengan orangutan, mungkin dia perlu berkaca, bahwa sejatinya dialah yang telah mengancam hidup orangutan.

Think Again (Courtesy BOS Australia)

Think Again (Courtesy BOS Australia)

kambing hitam

Saya bukan penggemar kambing sejati. Kalau ada daging kambing, saya makan sedikit saja. Baunya prengus dalam istilah ibu saya. Entah apa definisinya. Tapi yang jelas, saya sepakat.

Yang saya tahu, manusia itu mahluk yang butuh kambing. Terutama kambing hitam. Saya tidak tahu darimana istilah itu berasal. Tapi sepanjang kehidupan manusia, agaknya ‘binatang’ ini yang paling sering dicari.

Manusia itu mahluk yang penuh dengan penolakan. Denial, kata anak sekarang. Setiap ada kegagalan menghampiri, penolakan hampir menjadi rasa yang tak pernah absen dalam hati, sekecil apapun ukurannya. Dan penolakan biasanya melahirkan rasa yang sedikit berbahaya, menyalahkan sesuatu atas penyebab kegagalan, mencari kambing hitam.

Kambing hitam itu bisa orang lain, bisa diri sendiri. Bisa mahluk hidup maupun benda mati. Seperti apa yang saya rasakan. Sejak pagi saya terus mencari kambing hitam atas ketidaknyamanan yang saya rasakan hari ini.

Dan keputusan ‘memelihara’ kambing hitam hingga malam ini tiba-tiba saya sesali. Tidak selesaikan masalah, malah buat saya makin gelisah. Saya inih! *nonjok diri sendiri*. Okay, sepertinya saya sedang mencari kambing lain yang juga berwarna hitam. Cukup.

Malam ini kambing hitam akan saya ikat dengan rangkaian kata dalam postingan ini. Tapi ketika malam semakin larut dan kesadaran saya menyurut, semoga kambing hitam yang sedang mengembik-embik di kepala saya ini bisa pergi. Tapi cara yang paling efektif adalah menjadi tukang jagal pada setiap kambing hitam yang kita hadirkan. Pada setiap penolakan yang kita ciptakan sendiri.