Seharusnya

Hari-hari kemarin terlalu banyak dihiasi kata seharusnya

Seharusnya begini

Seharusnya begitu

Ada sesal yang terkandung

Ada marah yang terselubung

 

Ini bukan soal menyesali kematian

Tapi ini soal menyesal pada orang-orang yang bergerak tidak pada tempatnya

Mengambil tindakan yang tidak seharusnya

Ah, seharusnya

 

Ini bukan soal marah pada takdir

Tapi ini soal marah pada diri yang begitu berat memaafkan

Padahal diri juga orang yang hina bersimbah kesalahan

Maka seharusnya maaf bisa terberikan

Ah, seharusnya

 

Dan bulir-bulir hujan di bulan November

Telah sekuat tenaga mengajarkan keikhlasan

seharusnya bisa meluruhkan penyesalan

seharusnya bisa menghapuskan kemarahan

bahwa tak ada gunanya menyimpan luka

dan memaafkan adalah jawaban

Advertisements

Untukmu Maafkan Saya

Untuk pekerjaan-pekerjaan yang kurang sempurna…

Untuk tindakan-tindakan yang kurang ikhlas…

Untuk perilaku-perilaku yang kurang sabar…

Untuk janji-janji yang batal ditepati…

Untuk menularkan energi-energi yang kurang positif…

Untuk ruku’-ruku’ yang kurang tuma’ninah…

Untuk sujud-sujud yang kurang panjang…

Untuk do’a-do’a yang dirapalkan dengan tergesa-gesa…

dan

Untuk menjadi abdi negara yang sekenanya, anak yang seenaknya, dan hamba yang seadanya.

Maafkan saya.