Tentang Karir dan Keluarga

Hari ini Kuro, laptop saya, masuk panti rehabilitasi. Error dua minggu cukup untuk membuat saya deg-degan, dan mari kita masukkan dia ke HP Service Center.

Setelah dari pusat pemeliharaan laptop, ingin segera pulang saja. Tapi rasanya sayang jika tidak ke toko buku. Membeli beberapa alat tulis, satu buku non-fiksi dan sebuah novel. Tidak banyak pertimbangan memilihnya. Saya tahu penulisnya sejak SMP, Nurul F. Huda.  Tidak terlalu mengikuti karirnya, meski kami berteman di Facebook. Dia sudah almarhumah. Tahun lalu, dalam usia relatif muda, dan meninggalkan 2 anak yang masih kecil. She was a single mom. Mengenai ini, saya berasumsi almarhumah bercerai dengan suaminya. Karena cerita mengenai suaminya hampir tidak pernah muncul, diiringi dengan tulisan yang semakin menunjukkan ketegaran, juga kesendirian. Wallahua’alam.

Yang saya beli adalah novel terakhirnya sebelum penyakit jantung mengakhiri perjalanan hidupnya di dunia. Judulnya Suami Sempurna. Sejatinya ini bukan novel, tetapi kumpulan cerpen. Saya baru sempat membaca 3-4 cerpen. Salah satu judul yang saya baca bertajuk “Dua Bunda”. Dan saya pasti menangis jika tidak ingat bahwa saya sedang berada di tempat cucian motor. Yak, saya membacanya ketika si Shiro sedang dimandikan oleh mas-mas yang saya tidak tahu namanya 😀

Dua Bunda pada dasarnya bicara soal konflik batin seorang ibu yang anaknya jauh lebih dekat dengan asisten rumah tangga dibanding dirinya. Sang Ibu harus memilih antara karier atau anak yang terasa semakin jauh dari dirinya. Saya yang dibesarnya dengan tangan penuh ibu saya terkadang membayangkan jika saya mengalami hal yang serupa dengan tokoh si anak dalam cerita tersebut. Apakah saya bisa menjadi diri saya sekarang ini? Apakah saya bisa berada dalam jalan yang relatif cukup lurus?

Lucunya, tepat ketika saya menulis catatan ini, sekelumit biografi tentang Margaret Tatcher ditayangkan di Metro TV. Ingatan saya melayang pada beberapa hari yang lewat, ketika saya menonton film “Iron Lady”, yang notabene merupakan biografi Tatcher, dimainkan sangat apik oleh Meryl Streep.

Denis Tatcher, suami Margaret Tatcher dalam film itu digambarkan sangat mendukung karir istrinya. Pertengkaran sesekali tidak membuat Tatcher goyah dan menghentikan karir politiknya, termasuk ketika protes sang anak datang. Tapi tentu film tersebut tidak cukup menggambarkan kehidupan Tatcher yang sesungguhnya, bagaimana sebetulnya pergolakan yang dialami keluarga Tatcher mengenai karir berpolitiknya.

Tatcher juga bukannya tidak butuh keluarga. Hal ini digambarkan dalam film itu, ketika Tatcher memasuki masa lanjut usia, dan ditinggal wafat sang suami, Tatcher seakan lepas dari realitas. Dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Denis sudah meninggal, ditandai dengan gejala delusional yang dia alami setiap hari. Seakan suaminya ada di sampingnya. Ia menyiapkan segala keperluan sang suami, seperti baju, makan malam, dan mengobrol di malam hari.

Lepas dari kontroversi sudut pandang film —yang dinilai sangat ‘Partai Buruh minded‘ padahal Tatcher berasal dari Partai Konservatif di Inggris— , saya dapat menarik pelajaran, bahwa

“Di balik laki-laki yang sukses ada perempuan yang hebat, dan di balik perempuan yang hebat, ada laki-laki yang sabar.”

Kesabaran Denis membuat Margaret tak bisa move on, sekalipun Denis sudah tiada.

Dukungan pasangan dalam rumah tangga bagi karir seorang perempuan sangat penting. Tapi bagi saya, jauh lebih penting dukungan anak. Saya sendiri mau, jika memang harus full di rumah dan mengurus anak-anak. Karena itulah yang saya dapatkan, dan saya bertekad memberikan hal yang sama, bahkan lebih.

Tapi tentu ke depan banyak tantangan. Karena ada institusi yang menaungi saya, dan ada kontrak yang tertandatangani. Apalagi, jika saya keburu melanjutkan sekolah. Kontraknya akan semakin panjang. Senior saya yang perempuan memiliki dinamika masing-masing dengan kehidupan rumah tangganya. Mereka bisa melewatinya atau paling tidak berusaha melewatinya. Tapi sungguh sejujurnya, saya ingin mendampingi anak saya, sedetil-detilnya hidup mereka. Bisa tidak ya 😐

Saya jadi teringat cerita seorang teman yang menjadi guru di sekolah dasar islam internasional di Yogyakarta. Dia mendapati salah seorang muridnya memiliki orangtua yang hampir tidak ada di rumah, melesat dengan karir masing-masing. Tapi tidak lantas membuat anak itu kehilangan respek atas orangtuanya, bahkan prestasinya cukup cemerlang. Teman saya berkata pada saya, “Terkadang kita memang menggunakan hitung-hitungan manusia dalam menakar segala hal. Kalo orangtua sibuk, anak cenderung merasa brokenhome. Begitu kan asumsi kita?!” Saya mengangguk mengiyakan.

Dia melanjutkan, “Tapi, Din, percayakah kamu pada keberkahan rejeki? Ketika orangtua sibuk tungganglanggang menggali rejeki, menebar kemanfaatan untuk manusia lain, dan meniatkan semuanya dengan tulus hanya untuk meraih ridhoNya, maka Allah akan menjaga anak-anak yang mereka tinggalkan di rumah, dengan caraNya, di luar perkiraan kita.”

Saya terdiam. Berpikir dalam-dalam. Ah, karir dan keluarga sejatinya memang tak perlu dibentur-benturkan. Semua kembali ke seberapa tulus niat kita untuk menjadi manfaat bagi sesama manusia, dan meraih ridhoNya. Yang penting orang yang berhak atas kita mendapatkan haknya, termasuk anak. Bagaimana menurut pendapatmu? 😀

*ah saya baru sadar, saya belum punya anak. Dan belum menikah. Haha.

Jakarta, 9 Februari 2012

6 thoughts on “Tentang Karir dan Keluarga

  1. wah jadi kapan dini nikahnya? *eh
    😀
    tulisannya keren.. sekali2 kirim opini dong ke koran tempat kerja saya hihhi *alesan terselubung*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s