kambing hitam

Saya bukan penggemar kambing sejati. Kalau ada daging kambing, saya makan sedikit saja. Baunya prengus dalam istilah ibu saya. Entah apa definisinya. Tapi yang jelas, saya sepakat.

Yang saya tahu, manusia itu mahluk yang butuh kambing. Terutama kambing hitam. Saya tidak tahu darimana istilah itu berasal. Tapi sepanjang kehidupan manusia, agaknya ‘binatang’ ini yang paling sering dicari.

Manusia itu mahluk yang penuh dengan penolakan. Denial, kata anak sekarang. Setiap ada kegagalan menghampiri, penolakan hampir menjadi rasa yang tak pernah absen dalam hati, sekecil apapun ukurannya. Dan penolakan biasanya melahirkan rasa yang sedikit berbahaya, menyalahkan sesuatu atas penyebab kegagalan, mencari kambing hitam.

Kambing hitam itu bisa orang lain, bisa diri sendiri. Bisa mahluk hidup maupun benda mati. Seperti apa yang saya rasakan. Sejak pagi saya terus mencari kambing hitam atas ketidaknyamanan yang saya rasakan hari ini.

Dan keputusan ‘memelihara’ kambing hitam hingga malam ini tiba-tiba saya sesali. Tidak selesaikan masalah, malah buat saya makin gelisah. Saya inih! *nonjok diri sendiri*. Okay, sepertinya saya sedang mencari kambing lain yang juga berwarna hitam. Cukup.

Malam ini kambing hitam akan saya ikat dengan rangkaian kata dalam postingan ini. Tapi ketika malam semakin larut dan kesadaran saya menyurut, semoga kambing hitam yang sedang mengembik-embik di kepala saya ini bisa pergi. Tapi cara yang paling efektif adalah menjadi tukang jagal pada setiap kambing hitam yang kita hadirkan. Pada setiap penolakan yang kita ciptakan sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s