seperti danau yang tenang

Seperti danau tenang yang dilemparkan batu ke dalamnya, dilukai sahabat itu. Beriak pasti muncul walau setitik, longitudinal berpijar-pijar walau sedikit.

Tapi sesaat kemudian kau mulai tenang kembali, meski kau tak bisa memungkiri kenyataan bahwa batu itu masih di dalam dasarmu. Beronggok tanpa permisi. Melukai sedikit permukaan tanahmu.

Namun kau lebih memilih membiarkannya. Menyambutnya sebagai bagian dari dirimu. Mempersilakannya di situ, tanpa mengusirnya bulat-bulan meski ia melukaimu. Menerima batu itu dengan segenap hatimu. Memaklumi kelebihan dan kekurangannya sepenuh jiwamu.

Tapi batu tak akan pernah bercampur. Ia tetap batu, tetap beronggok tanpa permisi, tetap melukai. Sungguh kau tidak bisa berpura-pura. Berpura-pura tak terjadi apa-apa.

Namun tidak berarti kau tidak memaafkannya. Kau memaafkannya dengan segala kekurangan yang kau punya. Karena kau menyadari bahwa ikhlas tak bisa didapat dalam sehari. Ia butuh waktu namun pelan tapi pasti, kau tahu akan mencapainya.

O, aku bukanlah danau yang tenang itu. Tapi aku akan menjadi sepertinya. Sepertinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s