Rasanya Baru Kemarin

Rasanya baru kemarin, aku mengeja perlahan-lahan, kata demi kata yang tertulis di buku belajar membaca, sambil sedikit-dikit melirik ibu yang tak lelah mengawasi, di kamar kontrakan kami yang sempit itu.

 

Rasanya baru kemarin, ibu memasakkan nasi kuning lengkap dengan lauk pauk di hari jadiku yang kelima, di tahun pertama kita pindah kerumah kayu yang indah ini.

 

Rasanya baru kemarin, ayah mengantarkanku ke taman kanak-kanak yang baru dibangun itu, dengan vespanya yang gagah.

 

Rasanya baru kemarin, ayah mendatangi acara pelepasan taman kanak-kanak dimana aku menjadi deklamator puisi, karena diantara siswa lain aku lebih pandai membaca.

 

Rasanya baru kemarin, ibu membelikan seragam merah putih yang baru, karena yang lama sudah sempit sekali.

 

Rasanya baru kemarin, ayah bertanya tentang nama anak laki-laki yang berani datang ke rumah dengan seragam putih biru itu.

 

Rasanya baru kemarin, ibu memberi pesan, untuk lebih menjaga diri karena aku sudah mulai beranjak remaja.

 

Rasanya baru kemarin, aku terlambat pulang sekolah, mampir dan jajan di suatu tempat dengan para sahabat, bangga mengenakan putih abu-abu kami.

 

Rasanya baru kemarin, aku duduk di teras rumah belakang menatap langit yang  bersih dan awan yang bergumpal-gumpal, berpikir sebentar lagi akan pergi jauh untuk menuntut ilmu.

 

Rasanya baru kemarin, ibu meninggalkanku di kamar sewaan di dekat kampus, dengan isak yang ditahan dan air mata yang berkali-kali dihapus.

 

Rasanya baru kemarin, petuah-petuah ayah menghiasi pembicaraan sambungan langsung jarak jauh dua minggu sekali, agar aku menjaga amanahnya untuk baik-baik menuntut ilmu.

 

Rasanya baru kemarin, pesan singkat yang kukirim kepada ibu mengabarkan bahwa aku akan segera memakai toga.

 

Rasanya baru kemarin, dadaku sesak, perpisahan dengan saudara seperjuangan di jogja begitu berat.

 

Rasanya baru kemarin, aku menempati kamar lamaku dengan suasana baru, kembali ke rumah kayu ini.

 

Rasanya baru kemarin, ayah mengantarkanku ke bandara, untuk menuju ibu kota, dengan pandangan yang penuh harapan.

 

Rasanya baru kemarin, ayah dan ibu mengucapkan syukur, atas kabar yang kuberikan.

 

Rasanya baru kemarin, hari-hari itu kulewati.

 

Rasanya baru kemarin tapi aku sudah harus pergi lagi untuk mengabdi pada negeri.

 

Rasanya baru kemarin…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s