MENGENANG SETAHUN KEMARIN (BEM KM DAN SAYA): A WEIRDO’S PERSPECTIVE

Jogjakarta, January 4th 2010
8:51 am
Kost Cendana

Bismillahirrahmanirrahiim

Rasanya sudah lama sekali saya tidak menulis catatan harian. Entah sudah berapa bulan, atau berapa tahun. Saya terlalu malas meluangkan waktu menceritakan apa yang terjadi pada diri saya dalam bentuk tulisan. Sampai di hari di mana saya tidak punya orang untuk diajak bicara. Ya, seperti saat ini.
Pasca kepengurusan BEM KM 2009 ini saya merasakan banyak hal. saya jadi tahu apa itu post power syndrome. Sibuk sepanjang tahun, lalu tiba-tiba tidak ada aktivitas yang berkaitan dengan itu. Jomplang, aneh, tidak biasa. Di antara keanehan itu, saya mengingat masa-masa setahun ini.

Diawali dengan sebuah panggilan telepon di pagi buta. Pukul 05.30 WIB tepatnya. Ketika saya sedang melawan diri untuk tidak tidur pasca menunaikan ibadah pagi hari. Sebuah nomor tidak dikenal berangka +62853xxxxxx tampil di layar handphone dan saya mengangkat dengan ragu. Setelah memastikan saya adalah Dini Suryani yang dia maksud, dia memperkenalkan dirinya dan menyatakan maksud teleponnya pagi itu.

“Perkenalkan, saya Qadaruddin Fajri Adi, Presiden Mahasiswa UGM 2009 terpilih. Bisa saya menemui Dini untuk membicarakan sesuatu hal yang penting?”

Saya harus mengakui, keputusan bergabung dalam kepengurusan Kabinet Konsisten Melayani BEM KM 2009 merupakan hal yang aneh, namun merubah banyak hal dalam hidup saya.
Aneh karena saya tidak ada riwayat yang mengindikasikan bahwa saya akan dijadikan menteri di BEM KM. Sang Presiden Mahasiswa terpilih bahkan tak mengenal saya. Apalagi saya tidak punya pengetahuan yang cukup mengenai kementerian yang diamanahkan ke saya itu. Saya memang pernah di BEM KM selama 2 tahun, tapi di Kementerian yaang berbeda, dan waktu itu belum ada kementerian yang selama 2009 saya ampu. So i have no idea at all.
Siang harinya Agung Baskoro datang menemui saya untuk mengopi sebuah dokumen. Dia bertanya,

“Gimana Din? Jadi menteri apa?”
Saat itu juga saya tahu, bahwa dialah tersangkanya. Dia tertawa, begitu tuduhan itu saya lancarkan padanya.

“Berkah tim sukses, Din. Terima saja”.
Tim sukses? Saya memang tim sukses salah satu calon presiden mahasiswa UGM 2009. Yang aneh, saya tidak mengenalnya secara pribadi. Saya hanya mengenal baik adiknya yang juga satu kos dengan saya selama dua tahun. Atas ajakan adiknya, saya bersedia untuk jadi tim sukses, dan karena beberapa hal yang cukup prinsipil yang mungkin tidak akan saya ceritakan di sini. Hehe.

Aarggh. Dan saya bergabung. Dalam kabinet teraneh BEM KM sepanjang masa (haha, berlebihan). Mengapa aneh? Sejak awal, beberapa menterinya ada yang suka berantem. Entah karena urusan pribadi, masa lalu, atau apalah, terserah. Saya juga merasakan ‘hard feeling’ terhadap seorang menteri. Penyebab hard feeling itu saya bahkan sudah lupa. Mungkin suatu kejadian di masa lalu, ah saya tidak ingat. Yang penting kalo ketemu dia, bawaannya kesal. Untungnya saya bisa menyikapinya dengan bijaksana (hoeks…), akhirnya jadi biasa-biasa aja. Kita mitra kerja, so harus jaga hubungan baik, dong.
Anehnya lagi, saya yang ditrust terhadap kinerja orang lain, tiba-tiba dipaksa mendelegasikan tugas, demi kepentingan penyiapan kader BEM KM selanjutnya. Saya yang suka didengar, sekonyong-konyong harus siap mendengar keluhan orang lain yang tiap hari mampir di telinga saya. Saya yang berprinsip ‘i do what i like’ secara terus-menerus harus melakukan perintah orang lain yang kadang-kadang melawan keinginan saya sendiri.

Yah, BEM KM ini sarana pembinaan untuk saya. Di akhir tahun 2008, ketika saya sedang getol2nya ingin lulus segera, tawaran ini datang dan mengubah peta hidup saya. Entah mengapa saat itu tidak banyak penghalang saya untuk menerima tawaran ini. Dan saya menggapnya sebagai ridho Allah untuk saya dalam mengemban amanah ini.

Menginjak pada masa-masa mencari massa, alias staff. Saya yang dilanda kebingungan, karena banyak dari staf PPM 2008 tidak melanjutkan baktinya di BEM KM. Saya akhirnya mencari, di mushala FISIPOL, kantin FISIPOL, dan parkiran FISIPOL. (Hahaha, makanya kebanyakan anak PPM adalah anak FISIPOL). Alhamdulillah, ada yang berhasil saya jerat, dan bersedia mendampingi saya dalam mengampu kementerian.

Keanehan lainnya, masih kosongnya tiga jabatan kementerian. Jidat saya berkerut menyadari hal ini. Agak fatal juga,sih, mengingat kita dituntut untuk bekerja dalam masa 1 tahun yang singkat. Memangnya jabatan itu mau kosong berapa lama? Tapi untungnya sih ada yang menjabat, meski sempat ditolak sama beberapa orang. Yah, tapi ga lama-lama banget kok kosongnya. Hehe.

Tapi kita tidak bisa menolak takdir Allah. Salah satu menteri BEM KM dipanggil olehNYA dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Akhirnya jabatan itu kosong lagi untuk sementara. Selain itu, salah satu Menko yang hengkang dari BEM KM karena berbagai alasan. Akhirnya dengan terpaksa (amat sangat terpaksa) rekan saya di ‘rumah’ yang sama harus merangkap jabatan. Janjinya sih cuma 1 bulan, tapi dalam kondisi seperti itu, ga akan ada lagi deh yang mau menggantikan pejabat itu. Alhasil, rekan saya itu harus double position sampai akhir kepengurusan. (Menjabat untuk satu aja udah berat apalagi dua?)Belum habis memikirkan betapa kompleksnya persoalan ini, BEM KM ditinggalkan oleh sang stabilisator internal, without saying any goodbye, lagi! Terguncang? Biasa aja tuh *sambil menunduk. Haha, berlebihan.

Khusus mengenai Menteri Aksi dan Agitasi, karena tidak ada yang bersedia double position, maka diambillah seorang dari Kementerian Advokasi Kampus, yang semakin menambah keanehan kabinet BEM KM 2009. Sumpah, aneh. *Peace!

Selanjutnya, keanehan2 lain makin bermunculan. Menginjak penerimaan mahasiswa baru, kami sibuk mempersiapkan konsep dan lain sebagainya. Tapi kebijakan universitas ikut-ikutan aneh, dan akhirnya kami harus mencari cara lain, yaitu dengan masuk ke fakultas, dan mengeluarkan sebuah booklet untuk mahasiswa baru, yang dibuat dengan lembaga lain di Keluarga Mahasiswa (DPM,DPF,FORKOM). Pembuatan booklet inilah yang mengundang banyak airmata (*airmatanya Dinda doank tapi, hehe), juga coretan spidol. Sejak pukul 6 pagi, seluruh awak BEM KM disibukkan dengan coretan spidol. Kalau waktu itu kesal dengan BEM, itu saat yang tepat untuk melampiaskan, karena bisa mencoret nama BEM sesuka hati. Hehe.

Belum lagi bicara soal ditinggalnya berbagai kementerian oleh menterinya untuk Kuliah Kerja Nyata. Ini benar-benar aneh dalam sejarah BEM KM. Kayaknya BEM tahun-tahun lalu belum pernah ditinggal menterinya KKN. Tapi tentu tak ada kejadian tanpa hikmah. Dan kami—yang ditinggal di BEM KM— melewati saat-saat yang cukup sulit itu dengan hati yang (di)lapang (-lapangkan). Tentu kawan-kawan yang KKN itu juga mengalami kesulitan. Yah, kalo melihat pengalaman KKN saya sih, emang ga mudah. Apalgi harus dibarengi dengan mengampu amanah di organisasi selevel BEM KM. So, kita sama-sama berjuanglah.

Sampai saat saya harus membuat suatu keputusan yang juga cukup aneh. Saya harus ke lapangan, untuk penelitian. WHAT?! Di tengah kepengurusan?! Oh, NO! keputusan yang cukup kontroversial, tapi tak bisa saya hindari. Saya terjepit saat itu. Terjepit oleh banyak hal, terutama pikiran saya sendiri. Tapi sungguh tak bisa saya hindari. Sungguh ga enak meninggalkan BEM di tengah kepengurusan. Perasaan was-was dan khawatir selalu menghantui saya. Takut inilah-itulah. Apalagi kementerian PPM sedang mempersiapkan acara akhir tahun yang cukup besar. Tentu teman-teman (terutama PPM) membutuhkan saat dimana saya harus ada di situ. *haha, GR mampus!

Dan akhirnya, ketika saya sampai di Jogja, orang yang pertama saya temui adalah teman-teman PPM. Tapi kekhawatiran saya sirna seketika melihat kesolidan teman-teman PPM yang luar biasa. *standing ovation for you guys! Acaranya bisa dibilang sukses, dan yang paling penting, menambah ikatan persaudaraan kami.

Ya, saya mendapatkan banyak hal dari sini. Saya juga belajar tentang banyak hal. Terutama tentang mengatasi tekanan, mengambil keputusan, ‘mengabaikan’ pengabaian, dan tentu melakukan pengabdian. Dan saya pikir, bukan hanya saya yang belajar, tapi juga yang lain, walaupun bisa jadi berbeda dengan yang saya pelajari.

Keanehan demi keanehan ini pada akhirnya harus berakhir. Ya, kami sudah sampai di ujung kepengurusan. Tidak ada kata-kata perpisahan. (soalnya emang belum perpisahan, hihihi *Qoriii) Tidak ada kata-kata yang terucap dari mulut kami, selain berjanji suatu hari nanti kita bisa bertemu lagi dan bisa mempersembahkan yang terbaik untuk negeri, dengan tangan kami sendiri.

Sebelum itu, foto-foto dulu aaahhh…

Hihi, dasar orang-orang aneh!

Dedicated to: my beloved (weirdoes) sisters and brothers of
“BEM KM UGM 2009—Konsisten Melayani”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s