MANAJEMEN KEUANGAN KELUARGA

An Interview with Ust. Hetty Zulaikha and Ust. Sholeh
Dini Suryani

*Tulisan ini disusun dalam rangka memenuhi suatu tugas. Semoga bermanfaat.

Sebagai agama yang kaffah, Islam telah mengatur seluk-beluk kehidupan manusia, mulai dari keluar dari rahim hingga masuk liang kubur, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Dan sebagai manusia yang ingin senantiasa menegakkan panji-panji Islam di bumi-Nya, maka sudah sepatutnyalah kita melaksanakan segala sesuatunya dalam koridor Islam. Tanpa terkecuali dalam mengelola keuangan keluarga. Berikut ini, adalah beberapa hal yang patut kita perhatikan dalam mengelola keuangan keluarga, yaitu:

I.Yakin bahwa laki-laki yang akan kita nikahi paham atas konsep “suami menafkahi istri”

Di Indonesia sendiri, secara umum konsep ini sudah dipahami secara meluas oleh masyarakat. Untuk akhwat yang menikah dengan orang sudah tertarbiyah, insya Allah poin ini tidak akan menjadi masalah. Adalah suatu hal yang memalukan jika sang laki-laki menikah dengan perempuan dengan niat agar ia dibiayai kehidupannya.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Q.S. An Nisa’: 34)

II.Segera pasca menikah, buat kesepakatan dengan suami

Tentu kesepakatan yang dimaksud di sini adalah mengenai bagaimana keuangan keluarga dikelola. Sebagai ilustrasi, seorang suami bisa mendiskusikan dengan istri tentang siapa yang akan mengelola keuangan rumah tangga. Adalah hak suami, jika ingin mengelola sendiri nafkahnya untuk keluarga. Di sisi lain seorang istri harus ridlo dengan berapapun uang yang diberikan kepadanya untuk dikelola.
Apapun pilihannya, pengelolaan keuangan keluarga HARUS berdasar pada prinsip keterbukaan, bukan sekedar saling percaya. Terbuka bukan hanya soal berapa uang yang masuk ke dalam keluarga (penghasilan), namun juga setiap pengeluaran yang digunakan keduanya (suami dan istri) untuk memenuhi kebutuhan keluarga atau hal lain (misalnya mengirim uang ke orang tua).
Selain itu, buat kesepakatan dengan suami (apalagi untuk keluarga yang pemasukannya hanya 1 pintu), untuk beberapa hal, kita tidak perlu menanyakan persetujuan suami terkait pengeluaran yang akan kita lakukan. Misalnya beli peniti (terlalu ekstrim contohnya, hehe). Nah, di sini rasa saling percaya dibutuhkan.
Oh ya, untuk beberapa kasus, misalnya untuk orang yang membutuhkan pengeluaran khusus yang jumlahnya besar dan rutin, misalnya: pengobatan untuk sakit menahun, maka harus turut dibicarakan dalam kesepakatan yang dibuat dengan pasangan. Karena ini akan berkaitan erat dengan prioritas pengeluaran dalam finansial keluarga (makanya waktu ta’aruf kita diminta untuk mencantumkan penyakit yang pernah/sedang diderita, kan?!)

“Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Tuhannya dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS.As Syuraa: 38)

III.Alokasikan pengeluaran untuk 3 hal yang akan dibahas kemudian.

Alokasikan berarti dilakukan di awal, bukan di akhir. Artinya, tiga macam pengeluaran ini bukanlah sisa, atau dikeluarkan tanpa perencanaan. Tiga hal tersebut adalah:
a. Infaq. Idealnya alokasi untuk infaq adalah sebesar 20% dari penghasilan. Jika ada kegiatan-kegiatan dakwah yang membutuhkan dukungan finansial dari ummat, gunakan saja dana ini.

“Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli dan tidak ada lagi syafa’at. Dan orang-orang kafir itulah orang-orang yang zalim.” (Q.S. Al Baqarah: 254)

b.Tabungan. Sebagai keluarga yang visioner, tentu harus punya tabungan, dong. Alokasi ideal untuk tabungan adalah 10%. Bang bing bung, yuk, kita nabung…

c. Dana darurat. Dana ini untuk persiapan, kalau-kalau ada musibah yang menimpa atau pengeluaran mendesak yang tak terduga sebelumnya. Persentase ideal dari dana darurat adalah 5% dari jumlah penghasilan.

Tentu alokasi ini dilakukan setelah membayar zakat ya…
“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).” (Q.S. Ar Ruum: 39)

IV.Tentukan prioritas pengeluaran dalam mengelola keuangan keluarga.

Prioritas akan membantu kita dalam mengidentifikasi perlu atau tidaknya melakukan tindakan konsumsi. Prioritas tersebut terbagi menjadi 3, yaitu:
a. Darurat, yaitu segala hal yang berkaitan dengan nyawa. Yang pasti, makan (tentu dengan memperhatikan kandungan gizi juga). Sisanya, sandang, juga papan (mungkin lebih populer disebut dengan kebutuhan “primer”)
b. Hajat, yaitu pemenuhan kebutuhan selain yang tergolong dalam darurat (hahaha), namun menjadi kebutuhan juga. Misalnya, pendidikan anak (tidak hanya sekolah tapi juga buku-buku bacaan, komputer, dll) juga kesehatan. Atau kebutuhan untuk rekreasi (mainan anak, liburan keluarga) dan menyalurkan hobi.
c. Tahsinat. Nah, yang ini, cenderung kebutuhan untuk meningkatkan status sosial. Kebutuhan yang tergolong tahsinat sebaiknya dipenuhi ketika kebutuhan darurat dan hajat sudah terpenuhi. Misalnya: mobil, laptop, renovasi rumah agar lebih bagus
Namun, prioritas di atas tidak bisa disamaratakan pada setiap keluarga dan di setiap waktu. Misalnya, untuk tahun ini keluarga kita berencana untuk memperbaiki rumah yang sudah rusak. Maka bisa jadi prioritas untuk membangun rumah menjadi lebih tinggi dibanding pengeluaran yang tergolong hajat. (Tapi jangan sampe gara-gara bikin rumah trus anak-anak jadi makan ikan asin tiap hari dan ga punya mainan. Haha, berlebihan)

V. Hemat, hemat, hemat.

Sebagaimana kata pepatah, hemat pangkal kaya. Biasakan hemat dalam membelanjakan harta.

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (Q.S. Al Furqan: 67)

VI.Keduanya paham bahwa setiap harta ada tuannya.

Subjek dari harta harus jelas, karena itu tidak ada harta bersama. Karena setiap harta akan diminta pertanggungjawabannya. Atau dengan kata lain, tidak ada harta gono-gini dalam Islam. Ketika laki-laki dan perempuan memiliki harta ketika mereka menikah, maka itu akan menjadi milik masing-masing. Contoh paling konkrit adalah Rasulullah SAW menikahi Khadijah, keduanya sudah punya harta masing-masing.
Suami yang baik adalah suami yang tidak ‘mengintervensi’ harta istri. Dan seorang istri yang baik adalah istri yang terbuka pada setiap harta-hartanya dan bagaimana dia mengelolanya.

VII. Kemandirian finansial istri itu penting, bila mengacu pada poin ke VI.

Kemandirian finansial istri bukan sebuah tuntutan, karena tanggungjawab menafkahi keluarga tetap berada di pundak suami. Namun, yang harus dipahami adalah, jika setiap harta ada tuannya, maka uang suami yang dikelola oleh istri tetaplah menjadi harta suami. Sebagai ilustrasi, jika istri menginfaqkan sebagian harta keluarga (yang berasal dari suami) maka pahala atas amalan tersebut sebagian besar akan tetap menjadi milk suami (tentu ini merupakan hitung-hitungan manusia, wallahu a’alam bi sawwab). Karena itu, lebih baik jika istri memiliki pemasukan sendiri, dan bisa mengamalkan hartanya di jalan Allah, untuk menggapai ridho-Nya.
Selain itu, dalam keadaan tertentu, penghasilan istri pasti akan sangat membantu, karena menambah pinta pemasukan yang semula hanya 1. Meski sekali lagi tidak ada tuntutan untuk itu. Namun, tentu akan menjadi dzalim ketika gaji suami Rp 500,000/ bulan, dan penghasilan istri Rp 2,000,000/ bulan, tetapi sang istri tidak ikut membantu keuangan keluarga, karena tidak ada tanggungjawab formal untuk itu.

VIII. Libatkan anak dalam memahami pengelolaan keuangan keluarga

Anak merupakan anggota keluarga yang tidak boleh diremehkan, termasuk dalam pengelolaan keuangan keluarga. Pada umur-umur yang sudah dianggap cukup, berikan ia uang saku, yang pengelolaannya sepenuhnya menjadi tanggungjawabnya. Contoh kasus: Kita memberikan jatah anak Rp 20.000 satu minggu. Tiba-tiba, dia ingin membeli mainan yang sedang nge-trend saat itu. Padahal kita sudah mengeluarkan anggaran untuk membeli mainan untuknya pada bulan itu. Maka ketika dia meminta kita untuk membelikannya, jangan menyerah dengan rengekannya. Sebaliknya, buat ia bertanggungjawab atas pengeluaran yang ia lakukan. Minta ia gunakan uang sakunya, yang pengelolaannya telah berpindah ke tangannya, tentunya setelah kita beri pertimbangan-pertimbangan. Jika ia tetap membeli mainan tersebut dan mengakibatkan uang sakunya habis padahal masih di awal pekan, jangan mudah kasihan. Kita tidak boleh memberinya uang saku sampai waktunya tiba. Agar ia tidak kelaparan di sekolah, bekali ia dengan makanan dari rumah, tapi sekali lagi jangan beri ia uang. Ini semata-mata untuk melatih anak bertanggungjawab terhadap uang.

IX. Hindari pengeluaran yang tidak direncanakan
Yang membuat keuangan keluarga tidak stabil adalah pengeluaran yang tidak direncanakan. Maka, jangan pernah melakukan pengeluaran yang tidak direncanakan. Tentu yang dimaksud di sini adalah pengeluaran dengan jumlah yang cukup besar, karena sesungguhnya kita memiliki dana darurat untuk hal yang semacam ini. Namun, jangan juga asal menggunakan dana darurat. Kategorikan pengeluaran tak direncanakan kita itu, apakah termasuk yang darurat, hajat, atau tahsinat. Insya Allah akan mempermudah kita dalam memutuskan. Tentunya keputusan itu sudah dipertimbangkan bersama suami.

X. Kedepankan komunikasi dialogis
Salah paham sangat mungkin terjadi antara suami-istri dalam mengelola keuangan keluarga. Rasa saling percaya bisa menjadi pisau bermata dua jika kadarnya berlebihan. Yang penting kedepankan komunikasi dialogis agar semua permasalahan tidak berujung pertengkaran.

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma’afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Q.S. Ali Imron: 159)

XI. Pahami bahwa harta hanyalah sarana kita untuk beribadah kepada Allah. Sebagaimana do’a yang selalu kita panjatkan setiap hari “inna shalati, wa nusukii, wamahyaaya, wa mamatii lillahi rabbil-‘alamiin.”

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al Baqarah: 195)

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al Baqarah: 261)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s