KUASA MEDIA DALAM FILM “TOMORROW NEVER DIES”

oleh Dini Suryani
Kelas A1-2

Film ini merupakan salah satu seri dari cerita mengenai agen rahasia Inggris bernama James Bond atau lebih dikenal dengan kode 007. Dalam petualangannya kali ini, James Bond diutus untuk menggagalkan upaya penciptaan Perang Dunia ke-III antara kubu Timur dan Barat yang dalam film ini diwakili oleh China dan Inggris. Perang Dunia ke-III tersebut berusaha diciptakan oleh seorang boss grup media berjaringan internasional, Elliot Carver, demi satu tujuan: membuat berita besar dan dapat menyiarkan/mempublikasikannya pertama kali kepada dunia!

Saat ini, informasi telah menjadi sebuah modal kekuatan yang tak terkalahkan. Information is power. Meski ‘musuh’ kita memiliki senjata tercanggih sekalipun, namun kita memiliki informasi mengenai kelemahannya, maka senjata musuh menjadi tak ada artinya bagi kita. Kira-kira itulah yang menjadi ide dasar dari film ini. Bahwa informasi merupakan suatu alat dominasi yang efektif baik itu terhadap seseorang, suatu kelompok masyarakat, maupun suatu negara. Dalam film ini banyak adegan yang terang-terangan memperlihatkan hal tersebut. Salah satunya adalah ketika Carver mengancam seorang presiden negara lain untuk memberikan hak siar kepada perusahaannya untuk waktu yang panjang di negara tersebut, atau Carver akan menyiarkan video ‘kotor’ sang presiden ke seluruh dunia. Pada dialog selanjutnya, Carver menyatakan apapun tindakan sang presiden, memberikan hak siar atau tidak, video ‘kotor’ tersebut akan tetap disiarkan. Lagi, informasi adalah kekuatan.

Dalam perencanaan Perang Dunia ke-III nya, Carver menggunakan metode adu domba dengan meluncurkan misil kepada kedua negara melalui ‘kapal siluman’ miliknya. Sehingga Inggris mengira China yang menyerang mereka, dan sebaliknya, China mengira Inggris yang menyerang mereka. Esoknya, headline pemberitaan (yang tentu diberitakan oleh perusahaan media milik Carver, sebagai pihak yang ‘pertama-kali-tahu’) semakin memperuncing keadaan. Hal ini sekali lagi menunjukkan pada kita bahwa kata-kata sejatinya tak hanya dimaknai sebagai sekedar kumpulan huruf, namun lebih dari itu, kata-kata bisa menjadi sebuah alat untuk menguasai.

Apa yang menjadi ide dasar dari film Tomorrow Never Dies ini seakan menggambarkan realitas yang terjadi pada umat Muslim. Media massa (terutama milik Barat) secara membabi-buta telah menjebak umat Muslim dalam pusaran stigmatisasi yang semena-mena. Istilah-istilah ‘Islam Teroris, Islam Fundamentalis, Islam Ekstrimis’ telah dipopulerkan sedemikian rupa melalui media-media massa dan secara langsung maupun tidak telah menanamkan kebencian penduduk dunia (yang bukan Islam dan tak mengetahui Islam secara sebenarnya) bahkan umat Islam itu sendiri terhadap saudara seimannya.
Misalnya, pada istilah ‘terorisme’. Secara bahasa, istilah terorisme berarti penggunaan kekerasan biasanya untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai suatu tujuan (Marbun, 2005: 530). Ketika beberapa kaum Muslim membunuh beberapa orang Israel, maka disebut terorisme. Namun, pembantaian kaum muslimin di kamp pengungsian Sabra dan Satila oleh Zionis Israel, bukan disebut terorisme. Itu disebut tindakan mendahului (pre-emptive). Atau, jika beberapa warga Palestina mengarahkan pesawat penumpang ke tujuan tertentu, tindakan itu disebut pembajakan (hijacking). Namun, jika angkatan laut Israel menembaki kapal kecil milik kaum muslimin Lebanon dan menggiringnya seperti sekawanan kambing, itu disebut penangkapan (interception). Lihatlah, betapa kata telah menjadi tirani, alat kuasa, dan alat propaganda. Dan adu domba dengan menjadikan umat Muslim sebagai domba hitam berhasil dilakukan.

Senjata fisik sudah tak lagi menjadi pilihan. Inilah yang disebut soft politics atau politik makna (Pratikno, 2007), dimana pemaknaan bukan sebuah objektivitas, namun proses subjektivitas yang dimanipulasi oleh pihak-pihak dominan sehingga memunculkan makna baru yang bisa saja, jauh dari makna sesungguhnya sehingga menimbulkan ambiguitas dan standar ganda. Inilah era ghazwul fikri, dimana kekuatan kata-kata, informasi, ide, pemikiran, telah menjadi senjata paling ampuh untuk menghancurkan, khususnya menghancurkan umat Muslim. Wallahua’lam bi sawwab.

*Ini adalah tugas salah satu subjek pada kuliah ‘kedua’ (yang pada akhirnya tidak saya lanjutkan karena tak pandai mengelola waktu. Hehe:p) yang tak jadi saya kumpulkan beberapa tahun lalu (that’s why film yang dibahas sangat tidak update dan tulisan ini masih sangat aneh—padahal tulisan saya yang sekarang juga masih tetap aneh, haha :D), dengan berbagai perubahan. Anyway, silakan menanggapi, mengkritisi, memperbaiki.

2 thoughts on “KUASA MEDIA DALAM FILM “TOMORROW NEVER DIES”

  1. Wah sayang sekali kalau tidak dilanjutkan.
    Padahal bahasanya cukup menarik loh, terutama di era “information is power” ini. Kalau bisa dipertajam lagi tulisannya, i think it will be good! 🙂

    • wah terima kasih atas komentarnya…ide dasarnya sebenarnya hanya ingin menunjukkan ketimpangan politik makna yang terjadi di sekitar kita. film ini hanya menjadi entry point-nya. mudah-mudahan nanti bisa mengangkat wacana2 lain yang berkembang di sekitar kita melalui film lagi 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s